Sabtu, 24 Juli 2010

FF [LOVE PAIN CHAP 1]

Title : Love Pain Chap 1

Author : Lian1412

Length : Oneshot

Cast : SHINee Minho, Kibum(Key), Taemin, Jinki (Onew)


All of this fic is Minho POV


Hari ini hari pertama aku belajar di sekolah ini. Jujur saja, sedari tadi berada di ruang kelas baruku ini aku merasa tidak nyaman dengan tatapan-tatapan mata yang penuh nafsu tak jelas itu.

“Yah, minho ah, baru saja kau datang semua mata yeoja di kelas ini sudah memperhatikanmu, padahal kau datang dengan muka yang serem seperti ini. Bagaimana jika nanti seluruh sekolah tahu soal kedatanganmu ini. Aku tak bisa membayangkannya. Terserah kau mau jadi terkenal atau apa, tapi aku yakin kau tak akan mampu merebut julukan diva dariku.” Kim Kibum,, teman sebangkuku yang baru dia terlihat begitu cerewet dan fashionable. Aku melihat ke arah seluruh penujuru kelas. Yep. Benar sekali perkataan Kibum mereka memandangiku dan aku risih karenanya. Saat ini aku merindukan lirikannya yang malu-malu, wajahnya yang memerah saat kita bertemu pandang, Andai saja kau ada disini denganku.

+++++++++++++++++++

Launch time… entah aku harus bersyukur atau berduka saat ini. Aku berjalan berdampingan mengelilingi sekolah baruku dengan teman sebangku yang cukup cerewet. Dia cerewet dalam segala hal, namun berkat dia, aku terbebas dari kerumunan yeoja yang tadi menyerbuku.

“Minho ah, Kau hanya berdiam diri saja dari tadi. Ceritakan padaku tentang dirimu.” Tiba-tiba Kibum bertanya padaku saat kami berhenti di sebuah tanah lapang yang luas dan membuka bekal masing-masing.

“Tentangku?”

“Yeah, apa saja. Misalnya kenapa kau pindah ke sekolah ini?”

”Karena appa pindah tugas.”

”Kalau hobimu atau cita-citamu?”

“Aku suka olahraga, aku ingin jadi pemain sepak bola.”

“Itu saja? Lihatlah dirimu, kau nampak begitu membosankan. Tak adakah dalam dirimu yang menarik? Err… misalnya sekolahmu yang dulu mungkin. Atau adakah orang yang spesial mungkin.” Aku terdiam sejenak dan menghela nafas panjang.

“Sekolahku yang dulu, sekolah yang biasa saja. Sama seperti sekolah ini, banyak yeoja yang tatapannya memuakkan, bahkan para yeoja disana cenderung mengerikan. Kalau orang yang special… ada satu dan selamanya akan tetap satu itu.”

“Mwo? Benarkah? Ceritakan padaku!”

Seperti terhipnotis dalam aliran sungai, aku berbagi cerita dengan Kibum, teman baruku. Meski dia cerewet, dia orang baik dan aku pastikan ia tak akan membocorkan segalanya. Aih, aku jadi teringat kembali padanya saat-saat kami duduk di tepi sungai kecil sore hari dan berbagi cerita, mengikrarkan janji yang tak dapat kupenuhi. Aku makin merindukannya, aku bisa gila hanya karena memikirkannya.

++++++++++++++++++++++++++

‘Brzzzzzz!!!’ (tau dah author gak ngerti suara ujan gimana. Pokoknya gini.)

Hujan turun dengan lebatnya saat pulang sekolah. Aku dan Kibum memutuskan untuk menunggu hujan reda meski entah sampai kapan. Kami duduk di koridor kelas sambil memandangi air hujan yang berjatuhan. Meski aku menunggu sambil bercanda dan bertukar cerita dengan Kibum, ingatanku tetap tertuju padanya… My Taeminnie…

++Flash Back++

Senja hari sepulang sekolah di tepi sungai kecil. Hanya ada aku dan dia saat ini. Semoga selalu seperti ini.

“Hyung lihat lihat!” dengan nada manja yang tidak dibuat-buat Taemin merangkul lenganku dan menarikku menuju sungai kecil itu. “Hyung, lucu ya… ikannya kecil-kecil dan warna warni.” Aku menatapnya lembut dengan senyum penuh ketulusan.

“Kau mau satu?” mendengar perkataanku ia langsung menoleh kepadaku dengan bola mata lebar dan jernihnya.

“Hyung bisa mengambilkannya untukku? Aku mau dua!”

“Dua?”

“Ne. kalau satu kasihan hyung harus sendirian.” Taemin mengangguk mantap membuatku semakin gemas akannya.

“Boleh. Kau carilah wadahnya biar aku turun ke dalam sungai untuk mendapatkannya.”

“Yep.” Si mungil Taemin mengangguk cepat dan berlari menjauh mencari wadah di rumahnya yang terletak tak begitu jauh dari sini. Mendapatkan ikan dengan tangan hampa merupakan hal yang mustahil sekali bukan? Aku hanya duduk termenung memandangi ikan-ikan itu. Aku segera bangkit dari dudukku dan berlari menuju jalan kecil saat aku melihat seorang penjual ikan lewat. Aku membeli 3 ekor ikan darinya dan segera kembali ke tepi sungai.

“Hyung! Aku sudah bawa mangkuk besar nih!” tak lama sesampainya di tepi sungai, aku melihat Taemin belari menuju arahku dengan tawa riangnya. “Ini hyung!” dengan nafas yang terengah-engah.

“Kau tak perlu sampai berlari-lari seperti ini Taemin ah… kau bisa saja jatuh jika tak hati-hati tadi.” Aku menyambut mangkok yang disodorkannya dengan senyuman terbaikku.

“Aku hanya terlalu semangat hyung. Yah hyung sudah dapatkan ikannya?”

”Hem.. ne. Ini.” Aku memperlihatkan 3 ekor ikan yang baru saja kubeli kemudian meletakkannya dari plastik ke mangkuk yang dibawa Taemin tadi.

”Cepat sekali hyung. Hyung hebat.” Taemin memeluk tubuhku erat-erat. Dalam hati aku tertawa geli melihat kepolosan si kecil yang dengan begitu saja percaya padaku. Harusnya dia curiga karena bajuku sama sekali tak basah. Aku melepas perlahan pelukanny dan menyodorkan mangkuk yang sudah berisikan ikan itu pada si kecilku yang manis.

”Tiga?” melihat jumlah ikan itu dia menatapku penuh tanda tanya. ”Aku kan hanya minta dua hyung...”

”Bonus. Kalau hanya dua, jika suatu saat nanti yang satu pergi yang satunya akan kesepian. Beda ceritanya jika bertiga bukan?”

”Ah.. ne. Tapi aku hanya ingin berdua dengan hyung saja...” dia meatapku manja. Benar-benar menggoda. Aku mengelus rambutnya dan mendekatkan dirinya ke dadaku.

”Aku tak akan kemana-mana Taemin ah” lagi-lagi Taemin menunjukan mukanya yang mirip udang rebus. Merah. Wajah yang semakin membuatku mencintainya. Mencintai kepolosannya, mencintai keluguannya, mencintai dirinya sekarang dan selamanya.

”Brzzzzz!!! Hujan turun secara deras dengan tiba-tiba. Taemin dengan sigapnya menutup mangkuk yang berisi ikan-ikan itu dengan tasnya dan menaruhnya ke bawah pohon dan menarikku untuk lebih mendekati sungai. Ia pun mulai bermain air.

”Taemin ah! Apa-apaan kau ini! Ayo segera berteduh atau kau akan sakit nantinya?”

”Tak apa hyung. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu sebagai tanda terimakasihku.” Taemin justru tersenyum lebar dan mulai menggerakkan badannya di bawah air hujan. Dia menari dalam hujan. Begitu cantik di mataku. Entah mengapa wajah mungil yang tanpa dosa itu nampak begitu menggairahkan dalam setiap gerakkannya di hari hujan ini. Andai saja dia sudah dewasa dan bukan namja kecil lagi, entah apa yang akan aku lakukan padanya saat ini. Bebrapa saat kemudian hujan berhenti, saat itu pula ia mengakhiri gerakannya itu dan berlari mendekat padaku.

”Bagaimana hyung? Bagus tidak?”

”Cantik”

”Hm?”

”Lihatlah pelanginya cantik.” aku menarik lengan Taemin dan memperlihatkan sebuah pelangi yang nampak di langit. Tepat di atas ujung sungai sore ini

”Ne. Cantik. Ah hyung... kau belum memberiku komentar tentang tarianku tadi.” Taemin berkata dengan nada manjanya.

”Komentarku?” Aku menarik lengannya dan mengambil mangkuk berisi ikan tadi beserta tas sekolahnya. ”Sekarang kita pulang. Aku tak mau dimarahi kakakmu karena membawamu pulang malam.”

”Ahhhhh.. hyuuuunggg..” dia merengek menolak ajakkanku, namun dia tetap mengikuti langkah kakiku menuju rumahnya.

++ End of Flash Back++

”Minho ah, kau kenapa?” Kibum mengguncang tubuhku perlahan.

“Hm? Aku menoleh bingung ke arahnya.”

“Kenapa kau menangis?”

“Mwo?” aku meraba pipiku dan kudapati cairan bening itu sedang mengalir dengan derasnya.

“Kau tak apa?”

“Aniyo aku.. hanya sedikit teringat cerita masa lalu.”

“Tentang si kecil yang kau ceritakan tadi siang kah?”

“Err.. yah kurasa begitu.”

“Kau merindukannya?”

“Well.. kau pasti tau jawabannya. Hujan sudah reda. Ayo pulang.” Aku beranjak dari dudukku dan berjalan pulang beriringan dengan Kibum. Hal ini… membuatku semakin ingat akan Taemin. Saat ini, tak ada lagi tangan mungil yang kugenggam selama perjalanan pulang. Saat ini, tak ada lagi wajah polos dengan tawanya yang renyah disisiku.

++++++++++++++++++++++++++

“Yah! Minho ah.. kau sudah kerjakan PR Bahasa Inggris kemarin?” seminggu sejak kepindahanku, aku semakin akrab dengan teman sebangkuku. Meski cerewet, itu semua demi kebaikkanku. Aku paham betul itu.

“Hm? Memangnya kemarin ada PR?”

“Aish, kau ini selama pelajaran hanya bisa bengong saja ya? Ini pekerjaanku! Cepat salin sebelum kelas Mrs. Sora dimulai. Dia cukup disiplin untuk segala hal. Lagi pula aku ini cukup unggul dalam bahasa Inggris. Kau tak perlu khawatir ada pekerjaan yang salah.”

“Haha.. thank’s bro.” Aku menyambut tawaran Kibum dengan senyuman hangat sambil menyibakkan rambutku yang mulai memanjang. Seisi kelas terdiam. Mereka menatapku penuh ketakjuban. ”Yah Kibum ah, ada apa dengan mereka?”


”Yah, mungkin mereka takjub karena baru kali ini melihatmu tersenyum. Kalau aku sih sama sekali tidak. Kamu sudah cukup banyak tersenyum dengan senyuman yang lebih manis dari ini saat menceritakan soal si mungil. Yah, aku penasaran, sehebat apa si mungil yang mampu membuatmu seperti itu.” Kibum berbisik padaku dengan nada khasnya. Membuat telingaku geli dan merasa aneh. Aku pun tertawa kecil dibuatnya.

”Kibum ah, lain waktu kau harus menemui minnie. Kau pasti akan setuju dengan pendapatku bahwa dia cantik. Dia cantik dan tak ada yang mampu menandinginya. Apa pun itu.”

”Termasuk aku sang diva ini?”

”Haha.. itu lain cerita. Sudahlah aku mau salin tugas ini.”

”Ne ne ne... aku cari makan dulu boy...” dengan nada anehnya Kibum pergi keluar kelas meninggalkanku dan belasan pasang mata yang masih terbengong-bengong menatapku.

Ku akui Kibum memang pantas mendapat julukan diva. Dia tahu bagaimana cara berpenampilan, dia terampil dalam pekerjaan rumah tangga, dia pandai, dia tahu betul bagaimana membuat orang lain yang berada di sekitarnya nyaman dengan keberadaannya yang terkadang terkesan over itu. Yah, singkatnya dia itu serbaguna, err.. serba bisa.

Taeminnie... aku sudah dapat teman baru disini... bagaimana denganmu? Apa kau baik-baik saja semenjak kepergianku? Kenapa tak ada kabar darimu? Telpon tak bisa dihubungi, surat-suratku juga tak ada jawaban. Apa kau pergi juga? Kemana?

Tiap hari aku merindukanmu. Aku merindukan saat kita masih berada dalam sekolah yang sama. Saat kita menghabiskan waktu kita sebagai pelajar dengan penuh rasa suka cita. Hanya ada kamu disisiku, itu lebih dari cukup. Yeah, andai saja aku tetap disisimu, tetap menjaga janji kita, tapi apa aku masih pantas, aku sudah melukaimu. Tanpa sengaja rasa cintaku membuatmu terluka. Aku harus bagaimana?

++Flash Back++


Setiap pagi aku menjemput kekasihku dan berjalan bersamanya menuju sekolah. Setiap kali istirahat aku selalu bertemu dengan kekasihku di taman belakang sekolah dan menghabiskan waktu bersama. Setiap hari aku bahagia hanya dengan kekasih hatiku, Taeminnie ah disisiku.

”Taeminnie ah, buku catatanmu baru lagi?” Istirahat pertama dimana kami menghabiskan waktu berdua di taman belakang sekolah, aku bertanya saat melihat Taemin mengerjakan PR dengan buku tulis yang masih nampak baru.


”A.. ani.. aniy hyung. Ini yang kemarin kok.”

”Jangan bohong Taemin ah, bukumu yang kemarin bukan ini. Apa kau bisa belajar dengan baik jika tiap hari ganti buku seperti itu? Itu hanya akan menyulitkanmu dan hanya membuang-buang uang saja bukan?”

”A.. aku baik-baik saja hyung.. sudahlah jangan perlakukan aku seperti anak kecil terus.” aku tertawa kecil. Dia selalu bilang tidak ingin di anggap sebagai anak kecil dengan bibir manyun khas anak kecil. Mataku ganti beralih ke arah ikatan tali sepatunya yang aneh.

”Taeminnie ah... Kenapa kau mengikat tali sepatumu dengan begitu rumitnya?”

”Hm? Karena aku tak mau terjatuh hanya karena tali sepatu. Kalau sampai terjatuh karena hal sepele, itu tidak keren kan hyung.” Taemin berlagak seperti orang dewasa dengan gayanya. Ah hyung, aku mau kembali ke kelasku dulu. Aku harus segera mengumpulkan PR ini.”

”Ah, ya. Jangan lupa makan kue yang kuberi tadi. Hari ini rasa coklat. Kau pasti suka.”

”Ne hyung.” Melihat Taemin dari belakang, entah kenapa terlihat begitu menyesakkan. Mungkinkah karena terlalu cinta? Akan tetapi akhir-akhir ini dia sering memunggungiku. Kenapa? Dia sudah merasa tak nyaman lagi disisiku?

++++++++++++++++++++++

Malam hari ini hujan turun dengan teramat deras. Aku sedang ribut besar dengan ayahku mengenai rencana kepindahan kami ke Seoul saat pintu rumah diketuk dengan kerasnya.

”Minho! Minho! Minho ah!” orang yang berada di luar rumah berulang-ulang kali meneriakkan namaku. Ayahku menatap tajam padaku. Aku segera berlari menuju pintu rumah tanpa mempedulikan tatapan memuakkan itu. Jinki hyung, kakak dari kekasihku Lee Taemin, dialah yang kudapati saat pintu rumahku terbuka. Seluruh badannya basah kuyup, wajahnya nampak pucat ketakutan. “Minho ah.. apa Taemin bersamamu?” aku terkejut mendengar pertanyaan yang meluncur dari bibirnya.

“Mwo? Aniyo. Tadi dia bilang dia ada acara dengan teman-temannya. Dia belum pulang?”
->To Be Continue


Source by Lian Blingers
http://www.facebook.com/note.php?note_id=446267544051

Tidak ada komentar:

Posting Komentar