Minggu, 25 Juli 2010

FF [LOVE PAIN CHAP 2]

Title : Love Pain Chap 2
Author : Lian1412

Length : Oneshot

Cast : SHINee Minho, Kibum(Key), Taemin, Jinki (Onew)

All This Fic is Minho POV


++Flash Back++

Malam hari ini hujan turun dengan teramat deras. Aku sedang ribut besar dengan ayahku mengenai rencana kepindahan kami ke Seoul saat pintu rumah diketuk dengan kerasnya.


”Minho! Minho! Minho ah!” orang yang berada di luar rumah berulang-ulang kali meneriakkan namaku. Ayahku menatap tajam padaku. Aku segera berlari menuju pintu rumah tanpa mempedulikan tatapan memuakkan itu. Jinki hyung, kakak dari kekasihku Lee Taemin, dialah yang kudapati saat pintu rumahku terbuka. Seluruh badannya basah kuyup, wajahnya nampak pucat ketakutan. “Minho ah.. apa Taemin bersamamu?” aku terkejut mendengar pertanyaan yang meluncur dari bibirnya.


“Mwo? Aniyo. Tadi dia bilang dia ada acara dengan teman-temannya. Dia belum pulang?”

“Belum. Dan ini sudah cukup larut untuknya. Apa lagi hujan turun sederas ini, aku khawatir terjadi sesuatu padanya. Akhir-akhir ini dia selalu pulang telat, tapi tidak pernah sampai selarut ini.” mendengar penjelasan Jinki hyung aku hilang kendali.

Seperti orang kesetanan aku berlari keluar rumah. Menyusuri seluruh jalan yang mungkin di lewati oleh Taemin. Langkah kakiku terhenti di sebuah pohon besar tepi sungai dimana kami biasa menghabiskan waktu bersama. Aku melihat sesosok tubuh rapuh di bawah pohon itu. Aku mendekati sosok itu perlahan. Semuanya jadi semakin gelap saat aku menyadari Taeminlah yang sedang terbaring lemah disana. Seragamnya nampak kotor, banyak sekali bekas sepatu dan noda-noda yang tak jelas.

”Taemin ah! Bangun! Kau baik-baik saja?” Aku coba mengguncang tubuh mungil yang lemah itu. Aku terus memanggil namanya namun ia tak menjawab. Tak ingin berlamaan dalam kondisi seperti itu, aku mengangkat tubuhnya dan membawanya pulang kerumahnya.

Sesampainya di kediaman Lee, aku membaringkan tubuhnya di ranjang. Dia demam tinggi dan tak sadarkan diri. Sementara Jinki hyung sibuk menyiapkan air hangat, aku membersihkan tubuhnya yang kotor dan penuh lumpur itu. Dengan perasaan yang tak menentu aku membuka satu persatu kancing seragamnya. Kaget, marah, benci, seluruh perasaan tak menentu saat melihat beberapa memar di tubuhnya. Dada, perut, pinggang, semanya tak luput dari tanda biru itu.

”Ah, Hyung!” tiba-tiba saja Taemin terbangun dan menutup tubuhnya kembali dengan kemejanya. ”Kau lihat?”

”Ta..Taemin ah...” aku shock. Selama ini, dia selalu menerima perlakuan macam apa? ”Yah! Katakan siapa yang melakukan semua ini Taemin ah!”

”Auw...” Taemin berteriak kecil saata memegang erat kedua lengannya. Dengan rasa penasaran dan berharap semua tak sesuai pemikiranku aku menyingkap lengan bajunya dan mendapati beberapa memar yang sama di lenggan putihnya.

”Taemin ah! Siapa orangnya! Katakan padaku minnie ah. Mereka harus dapat pelajaran..”

”A...aniyo hyung. Jangan lakukan itu. Aku tak ingin tangan hyung yang hangat ini melukai orang lain.” Taemin memegang kedua tanganku dengan lemah dan mengecupnya perlahan. Meski masih merasa dongkol, tapi hatiku luluh seketika. Aku hanya bisa menuruti perkataan Taemin yang terlalu baik ini.

”Yeah, aku tak akan melukai siapapun termasuk kau, aku janji. Akan tetapi, bisakah kau ceritakan padaku kenapa kau sampai mendapat perlakuan seperti ini? Dan... kenapa kau menyembunyikannya padaku selama ini?”

”Aniyo hyung, aku tak bermaksut menyembunyikan apa pun pada hyung, tapi aku memang merasa tak perlu menceritakannya. Aku takut hyung khawatir. Aku mendapat perlakuan seperti ini memang karena salahku. Aku terlalu lembek, aku penakut, aku pengecut, aku terlalu mendapat banyak perhatian dari para guru, aku selalu membawa bekal yang banyak, aku selalu lambat dalam bergerak, aku tak pandai dalam bidang olahraga. Mereka bilang wajahku memuakkan. Mungkin memang sebaiknya aku tak berangkat sekolah.”

Aku menelan ludah. Aku bingung, apa dosa Taemin? Taemin hanyalah korban kesirikan mereka. Taemin yang sebegini cantiknya, Taemin yang selalu bersikap baik tanpa cela, berani sekali mereka mengatakan hal semacam itu.

”Aniyo Taemin ah, kau harus tetap pergi sekolah. Kau kuat, aku tahu itu..”

”Ehem...” Jinki hyung datang tiba-tiba dengan membawa seember air hangat. ”Minho ah, bisakah kau menunggu di luar, aku mau menghangatkan badan Taemin dulu.”


”Don’t cry Taeminnie ah.. Everything will get better. I’m here for you" Aku berbisik pada Taemin dan mengecup pipinya tanpa sungkan kemudian bangkit dan beranjak ke luar dan menuggu di ruang tamu. Selang beberapa menit kemudian, Jinki hyung keluar dari kamar Taemin dengan wajah seirus. Dia duduk di hadapanku dan mulai berbicara denganku.

”Minho ah, jujur ini bukan kali pertama Taemin pulang larut. Sejak dia semakin akrab denganmu dia jadi sering mendapat luka-luka seperti yang kau lihat tadi.” mendengar perkataannya aku hanya diam menunduk. ”Lihatlah tempat sampah yang ada di pojokan itu, disana ada banyak buku-buku Taemin yang sudah dirusak oleh beberapa temannya. Kurasa kau harus melihatnya sendiri agar mengerti mengapa Taemin mendapat perlakuan yang tidak-tidak seperti itu.” Jinki hyung berhenti bicara dan menunduk dalam diam. Aku beranjak menuju tempat sampah dan mengambil beberapa buku yang sudah penuh dengan sobekan itu. Buku kumal yang penuh dengan coretan spidol.


’FUCK YOU!’ ’BANCIII!!! KAMU KIRA KAMU SAPA DEKETIN MINHO KITA?’ ’KAMU GAK SEPADAN DENGAN MINHO!’ ’WHAT ASHAMED!’ 'KAMU INI NAMJA BUKAN SIH???'


Coretan dengan kata-kata yang menusuk. Namaku banyak sekali disebut hampir di semua buku. Apa kedekatanku dengan Taemin itu merupakan sebuah kesalahan besar hingga Taemin harus mendapat perlakuan sekejam ini?

Di halaman terakhir, aku membaca tulisan Taemin dengan seksama. Tulisan yang seperti curahan hatinya yang membuatku terdiam kaku. Rasanya aku jadi merinding membaca tulisan ini.


Kesedihan yang mendalam menguasai hatiku. Kecantikan yang kumiliki adalah dosa. Kecantikan yang dimiliki para yeoja adalah setangkai bunga mawar, tapi jika seorang namja melebihi kencantikan seorang yeoja? Hanyalah seperti burung yang jatuh ke kubangan lumpur. Cantik dan manis. Aku yang punya jari kaki imut berwarna pink dan tubuh yang ramping bukanlah kuil yang dipuja, tetapi gudang. Tempat yang pantas untukku hanyalah gudang. Tempat para yeoja yang iri pada kecantikan dan kedekatanku dengan Flaming Charisma melampiaskan amarahnya. Aku ingin berteriak! Seaneh itukah jika namja memiliki kulit yang putih, bersih, dan halus? Seaneh itukah jika seorang namja berbadan ramping dan memiliki jemari kecil yang nampak imut? Seaneh itukah aku hingga harus dibenci banyak orang yang menyukai Minho hyung? Seanehkah aku hingga aku harus terus menerus dapatkan siksaan dari namja yang suka berbuat ulah itu?


”Kau sudah selesai membacanya? Ku rasa harusnya kau sudah dapat mengerti. Aku mohon dengan sangat tolong jauhi adikku.” Jinki hyung mendekatiku dan membukukkan tubuhnya dihadapanku. ”Tolonglah, Taemin masih harus tinggal lama di sekolah itu, tak sepertimu yang tahun depan akan lulus. Aku satu-satunya keluarganya yang tersisa memohon padamu.”

”Eh, ah hyung.. jangan seperti ini, Aku janji aku akan melindunginya. Aku pastikan keamanannya. Aku akan berusaha sekuat tenanga untuk menjauhkan dirinya dari bahaya. Aku pastikan itu!”

”Minho ah, apa kau tak mengerti juga? Ini semua karena dirimu, jika kau bersikap seperti itu, itu hanya akan meembuat masalah membesar. Mereka akan menjadi-jadi karena yang mereka inginkan itu kamu.”

”Ah...er... ne.. ” aku berkata dengan nada lemas, aku sudah tak tahu harus bagaimana lagi. Benarkah semua kisahku dengan Taemin harus berakhir seperti ini? ”Aku akan melepas Taemin. Aku juga akan pergi dari desa ini, jika itu bisa membuat Taemin hidup dengan tenang.” akhirnya aku mengucapkan kalimat seperti ini. Hal yang sebenarnya masih aku pertentangkan dengan ayahku.

”Yah! Kau tak perlu melakukan sejauh itu. Kau cukup menjauhi adikku saja.”

”Aniyo, lagi pula ayahku memang akan pindah dinas ke Seoul.” aku berkata dengan senyum yang memaksa agar Jinki hyung bisa tenang.

”Jinjja?”

”Ne. Err... aku pamit dulu. Sudah larut sekali hyung. Aku juga harus segera berkemas. Please give my love to Taeminnie.” Aku menepuk lengan Jinki hyung perlahan kemudian pergi dari kediaman Lee dengan langkah yang berat. Sesekali aku menegadah menahan tangis sambil memandangi langit malam yang nampak kelam usai hujan yang deras. Aku rasa ini adalah kali terakhir aku bertemu dengan kekasihku. Menyedihkan sekali jika kita hanya membawa beban bagi orang yang kita suka.


++End of Flash Black++


’Duak’ kepalaku terasa pening tiba-tiba sesaat setelah bola basket berwarna kemerahan mendarat dengan mulusnya di kepalaku saat jam olahraga.

”Yah! Minho ah, kau baik-baik saja?” Kibum berlari kearahku dan memegangi dahiku. Dengan cekatan dia menarikku keluar lapangan. ”Yah! Kau bilang kau sangat suka olahraga, tapi kenapa kau hanya bengong saja tadi?”

”Mianh.”

”Kau teringat dengan si mungil itu? Kau rindu padanya?”

”Ne.” Aku menyahut lemas.”

”Argh... aku tak mengerti cara pikirmu salam sekali. Kalau kau rindu kenapa tak pergi kesana saja? Temui dia.”

”Mwo?”

”Pergi dan temui dia! Bukankah setiap akhir pekan kita dapat libur, kenapa kau tak gunakan saja untuk pergi menemuinya jika kau khawatir tentang kondisinya?”

”Yah! Kenapa tak pernah terpikirkan olehku. Er... kau mau menemaniku?” Aku benar-benar merutuki diriku, kenapa tak pernah terfikirkan olehku selama sebulan disini?

”Mwo?”

”Aku tak mungkin pergi seorang diri. Aku butuh alasan untuk dapat ijin dari ayahku.”

” Aku juga penasaran seperti apa si mugil itu hingga mampu mengalihkan duniamu seperti ini. Argh... kau bisa saja tidak lulus ujian jika terus seperti ini.”

”Kau penasaran? Harusnya bilang padaku dari kemarin-kemarin.” Aku merogoh sakuku dan mengambil dompet hitamku dan menyodorkan gambar tiga namja yang ada di dompetku pada Kibum. ”Lihatlah! Ini gambar yang kuambil saat liburan bersama. Taemin yang paling kiri dan pakai jaket hitam. Manis sekali bukan?”

”Ne, manis. Yang paling kanan itu manis. Hehe...”

”Kibum, ah.. aku tanya pendapatmu tentang Taemin,, bukan kakaknya.”

”Oh, hyungnya.. ckckck.. ne ne.. dua bersaudara yang manis. Baiklah aku akan menemanimu dengan satu syarat. "

" Syarat ? "

"Kenalkan aku pada kakaknya ya. Aku suka padanya. Hehe...” kibum nyengir kuda disisiku.

”Kau ini, selalu saja ada maunya, tapi gomawo Kibum ah.”

”Eh eh, Minho ah! Kalau yang tengah ini siapa?”

”Kakak kelasku sekaligus teman main basketku, Jonghyun hyung. Sepertinya kita akan banyak merepotkan dia nanti disana.”

”Oooh...” bibir Key membentuk bulatan dan membuat mukanya terlihat begitu menggemaskan. Dia bilang 'oh' bukan berarti dia benar-benar mengerti, tapi karena terlalu seirus memandangi foto Jinki hyung. ”Eh eh Minho ah kau punya foto-foto Jinki hyung lainnya? Boleh aku minta satu? Kalau bisa dia yang seorang diri yak. Ya..yah...”

TO be COntinue

Source by Lian Blingers
http://www.facebook.com/note.php?note_id=446497199051

Tidak ada komentar:

Posting Komentar