Aq yang sekarang ini selalu membuat org heran..
mengapa?
Tentu sja karna skrg sdkit dmi sdkit
aq menjdi org yang individu..
Orang yang jarang bergaul dgan teman2 dkat rumah (teman2 sebya q),
malah kbnyakan aq tdak kenal/lupa
dgan org2 skitar rmah q..
Keluar kmar saja pun aq jarang..
Pernah swatu saat tman q dtg krmah q..
(aq jrg keluar rmah, tp tman q kdang dtg krmh)
dy menanykan knapa aq betah drmh truz,apa tdak bsan?..
Aq mnjawbny,
knpa aq mrasa bsan!!..
Ddlm kmar bnyak yg aq krjakan..
Msalnya nnton tv/dvd *kbtulan dkmar q dha tv n dvd*
aq bsa nntn spuazny,
bca kmic,mjalah,oL dhp..*tetep smua tntg korea n jpang*
Sllu dha yg aq krjkan ddlm kmar..
Emank., hal tu krang wjar tuk kbnykan remaja skrg,,
rmaja skrg sllu brkeliarn g jlaz..*toe mnrut q*...
Skrang prgaulan anck rmaja sgat pyah..
Bbas bgetz..
Aq heran saat tman
(tman msa kcil) dtg krmah q..
Bicra,tgkah mreka..
Subhanaallah..
*halah sox ngucap*..
Bebas x,,
mrka sring cakap kotr..
Aq pning mndgarny..
Aq sja tdk mnygka mreka tman2 q..
Dsatu sisi aq brsykur,
aq adalh anck rmahan..
Hahaha..
Aq ingin menjdi org yg dwasa..
Tw mn yg hruz dlakukn,
dan yg tak prlu dlakukn..
Disisi lain,
khidupan ini bgitu cpat..
Ada kalanya aq lelah mnjalaniny..
Tp Baiklah..
Aq brusaha utk msa dpan q yg tak trlihat..
Hwaiting
Selasa, 07 September 2010
Minggu, 25 Juli 2010
FF [LOVE PAIN CHAP 2]
Title : Love Pain Chap 2
Author : Lian1412
Length : Oneshot
Cast : SHINee Minho, Kibum(Key), Taemin, Jinki (Onew)
All This Fic is Minho POV
++Flash Back++
Malam hari ini hujan turun dengan teramat deras. Aku sedang ribut besar dengan ayahku mengenai rencana kepindahan kami ke Seoul saat pintu rumah diketuk dengan kerasnya.
”Minho! Minho! Minho ah!” orang yang berada di luar rumah berulang-ulang kali meneriakkan namaku. Ayahku menatap tajam padaku. Aku segera berlari menuju pintu rumah tanpa mempedulikan tatapan memuakkan itu. Jinki hyung, kakak dari kekasihku Lee Taemin, dialah yang kudapati saat pintu rumahku terbuka. Seluruh badannya basah kuyup, wajahnya nampak pucat ketakutan. “Minho ah.. apa Taemin bersamamu?” aku terkejut mendengar pertanyaan yang meluncur dari bibirnya.
“Mwo? Aniyo. Tadi dia bilang dia ada acara dengan teman-temannya. Dia belum pulang?”
“Belum. Dan ini sudah cukup larut untuknya. Apa lagi hujan turun sederas ini, aku khawatir terjadi sesuatu padanya. Akhir-akhir ini dia selalu pulang telat, tapi tidak pernah sampai selarut ini.” mendengar penjelasan Jinki hyung aku hilang kendali.
Seperti orang kesetanan aku berlari keluar rumah. Menyusuri seluruh jalan yang mungkin di lewati oleh Taemin. Langkah kakiku terhenti di sebuah pohon besar tepi sungai dimana kami biasa menghabiskan waktu bersama. Aku melihat sesosok tubuh rapuh di bawah pohon itu. Aku mendekati sosok itu perlahan. Semuanya jadi semakin gelap saat aku menyadari Taeminlah yang sedang terbaring lemah disana. Seragamnya nampak kotor, banyak sekali bekas sepatu dan noda-noda yang tak jelas.
”Taemin ah! Bangun! Kau baik-baik saja?” Aku coba mengguncang tubuh mungil yang lemah itu. Aku terus memanggil namanya namun ia tak menjawab. Tak ingin berlamaan dalam kondisi seperti itu, aku mengangkat tubuhnya dan membawanya pulang kerumahnya.
Sesampainya di kediaman Lee, aku membaringkan tubuhnya di ranjang. Dia demam tinggi dan tak sadarkan diri. Sementara Jinki hyung sibuk menyiapkan air hangat, aku membersihkan tubuhnya yang kotor dan penuh lumpur itu. Dengan perasaan yang tak menentu aku membuka satu persatu kancing seragamnya. Kaget, marah, benci, seluruh perasaan tak menentu saat melihat beberapa memar di tubuhnya. Dada, perut, pinggang, semanya tak luput dari tanda biru itu.
”Ah, Hyung!” tiba-tiba saja Taemin terbangun dan menutup tubuhnya kembali dengan kemejanya. ”Kau lihat?”
”Ta..Taemin ah...” aku shock. Selama ini, dia selalu menerima perlakuan macam apa? ”Yah! Katakan siapa yang melakukan semua ini Taemin ah!”
”Auw...” Taemin berteriak kecil saata memegang erat kedua lengannya. Dengan rasa penasaran dan berharap semua tak sesuai pemikiranku aku menyingkap lengan bajunya dan mendapati beberapa memar yang sama di lenggan putihnya.
”Taemin ah! Siapa orangnya! Katakan padaku minnie ah. Mereka harus dapat pelajaran..”
”A...aniyo hyung. Jangan lakukan itu. Aku tak ingin tangan hyung yang hangat ini melukai orang lain.” Taemin memegang kedua tanganku dengan lemah dan mengecupnya perlahan. Meski masih merasa dongkol, tapi hatiku luluh seketika. Aku hanya bisa menuruti perkataan Taemin yang terlalu baik ini.
”Yeah, aku tak akan melukai siapapun termasuk kau, aku janji. Akan tetapi, bisakah kau ceritakan padaku kenapa kau sampai mendapat perlakuan seperti ini? Dan... kenapa kau menyembunyikannya padaku selama ini?”
”Aniyo hyung, aku tak bermaksut menyembunyikan apa pun pada hyung, tapi aku memang merasa tak perlu menceritakannya. Aku takut hyung khawatir. Aku mendapat perlakuan seperti ini memang karena salahku. Aku terlalu lembek, aku penakut, aku pengecut, aku terlalu mendapat banyak perhatian dari para guru, aku selalu membawa bekal yang banyak, aku selalu lambat dalam bergerak, aku tak pandai dalam bidang olahraga. Mereka bilang wajahku memuakkan. Mungkin memang sebaiknya aku tak berangkat sekolah.”
Aku menelan ludah. Aku bingung, apa dosa Taemin? Taemin hanyalah korban kesirikan mereka. Taemin yang sebegini cantiknya, Taemin yang selalu bersikap baik tanpa cela, berani sekali mereka mengatakan hal semacam itu.
”Aniyo Taemin ah, kau harus tetap pergi sekolah. Kau kuat, aku tahu itu..”
”Ehem...” Jinki hyung datang tiba-tiba dengan membawa seember air hangat. ”Minho ah, bisakah kau menunggu di luar, aku mau menghangatkan badan Taemin dulu.”
”Don’t cry Taeminnie ah.. Everything will get better. I’m here for you" Aku berbisik pada Taemin dan mengecup pipinya tanpa sungkan kemudian bangkit dan beranjak ke luar dan menuggu di ruang tamu. Selang beberapa menit kemudian, Jinki hyung keluar dari kamar Taemin dengan wajah seirus. Dia duduk di hadapanku dan mulai berbicara denganku.
”Minho ah, jujur ini bukan kali pertama Taemin pulang larut. Sejak dia semakin akrab denganmu dia jadi sering mendapat luka-luka seperti yang kau lihat tadi.” mendengar perkataannya aku hanya diam menunduk. ”Lihatlah tempat sampah yang ada di pojokan itu, disana ada banyak buku-buku Taemin yang sudah dirusak oleh beberapa temannya. Kurasa kau harus melihatnya sendiri agar mengerti mengapa Taemin mendapat perlakuan yang tidak-tidak seperti itu.” Jinki hyung berhenti bicara dan menunduk dalam diam. Aku beranjak menuju tempat sampah dan mengambil beberapa buku yang sudah penuh dengan sobekan itu. Buku kumal yang penuh dengan coretan spidol.
’FUCK YOU!’ ’BANCIII!!! KAMU KIRA KAMU SAPA DEKETIN MINHO KITA?’ ’KAMU GAK SEPADAN DENGAN MINHO!’ ’WHAT ASHAMED!’ 'KAMU INI NAMJA BUKAN SIH???'
Coretan dengan kata-kata yang menusuk. Namaku banyak sekali disebut hampir di semua buku. Apa kedekatanku dengan Taemin itu merupakan sebuah kesalahan besar hingga Taemin harus mendapat perlakuan sekejam ini?
Di halaman terakhir, aku membaca tulisan Taemin dengan seksama. Tulisan yang seperti curahan hatinya yang membuatku terdiam kaku. Rasanya aku jadi merinding membaca tulisan ini.
Kesedihan yang mendalam menguasai hatiku. Kecantikan yang kumiliki adalah dosa. Kecantikan yang dimiliki para yeoja adalah setangkai bunga mawar, tapi jika seorang namja melebihi kencantikan seorang yeoja? Hanyalah seperti burung yang jatuh ke kubangan lumpur. Cantik dan manis. Aku yang punya jari kaki imut berwarna pink dan tubuh yang ramping bukanlah kuil yang dipuja, tetapi gudang. Tempat yang pantas untukku hanyalah gudang. Tempat para yeoja yang iri pada kecantikan dan kedekatanku dengan Flaming Charisma melampiaskan amarahnya. Aku ingin berteriak! Seaneh itukah jika namja memiliki kulit yang putih, bersih, dan halus? Seaneh itukah jika seorang namja berbadan ramping dan memiliki jemari kecil yang nampak imut? Seaneh itukah aku hingga harus dibenci banyak orang yang menyukai Minho hyung? Seanehkah aku hingga aku harus terus menerus dapatkan siksaan dari namja yang suka berbuat ulah itu?
”Kau sudah selesai membacanya? Ku rasa harusnya kau sudah dapat mengerti. Aku mohon dengan sangat tolong jauhi adikku.” Jinki hyung mendekatiku dan membukukkan tubuhnya dihadapanku. ”Tolonglah, Taemin masih harus tinggal lama di sekolah itu, tak sepertimu yang tahun depan akan lulus. Aku satu-satunya keluarganya yang tersisa memohon padamu.”
”Eh, ah hyung.. jangan seperti ini, Aku janji aku akan melindunginya. Aku pastikan keamanannya. Aku akan berusaha sekuat tenanga untuk menjauhkan dirinya dari bahaya. Aku pastikan itu!”
”Minho ah, apa kau tak mengerti juga? Ini semua karena dirimu, jika kau bersikap seperti itu, itu hanya akan meembuat masalah membesar. Mereka akan menjadi-jadi karena yang mereka inginkan itu kamu.”
”Ah...er... ne.. ” aku berkata dengan nada lemas, aku sudah tak tahu harus bagaimana lagi. Benarkah semua kisahku dengan Taemin harus berakhir seperti ini? ”Aku akan melepas Taemin. Aku juga akan pergi dari desa ini, jika itu bisa membuat Taemin hidup dengan tenang.” akhirnya aku mengucapkan kalimat seperti ini. Hal yang sebenarnya masih aku pertentangkan dengan ayahku.
”Yah! Kau tak perlu melakukan sejauh itu. Kau cukup menjauhi adikku saja.”
”Aniyo, lagi pula ayahku memang akan pindah dinas ke Seoul.” aku berkata dengan senyum yang memaksa agar Jinki hyung bisa tenang.
”Jinjja?”
”Ne. Err... aku pamit dulu. Sudah larut sekali hyung. Aku juga harus segera berkemas. Please give my love to Taeminnie.” Aku menepuk lengan Jinki hyung perlahan kemudian pergi dari kediaman Lee dengan langkah yang berat. Sesekali aku menegadah menahan tangis sambil memandangi langit malam yang nampak kelam usai hujan yang deras. Aku rasa ini adalah kali terakhir aku bertemu dengan kekasihku. Menyedihkan sekali jika kita hanya membawa beban bagi orang yang kita suka.
++End of Flash Black++
’Duak’ kepalaku terasa pening tiba-tiba sesaat setelah bola basket berwarna kemerahan mendarat dengan mulusnya di kepalaku saat jam olahraga.
”Yah! Minho ah, kau baik-baik saja?” Kibum berlari kearahku dan memegangi dahiku. Dengan cekatan dia menarikku keluar lapangan. ”Yah! Kau bilang kau sangat suka olahraga, tapi kenapa kau hanya bengong saja tadi?”
”Mianh.”
”Kau teringat dengan si mungil itu? Kau rindu padanya?”
”Ne.” Aku menyahut lemas.”
”Argh... aku tak mengerti cara pikirmu salam sekali. Kalau kau rindu kenapa tak pergi kesana saja? Temui dia.”
”Mwo?”
”Pergi dan temui dia! Bukankah setiap akhir pekan kita dapat libur, kenapa kau tak gunakan saja untuk pergi menemuinya jika kau khawatir tentang kondisinya?”
”Yah! Kenapa tak pernah terpikirkan olehku. Er... kau mau menemaniku?” Aku benar-benar merutuki diriku, kenapa tak pernah terfikirkan olehku selama sebulan disini?
”Mwo?”
”Aku tak mungkin pergi seorang diri. Aku butuh alasan untuk dapat ijin dari ayahku.”
” Aku juga penasaran seperti apa si mugil itu hingga mampu mengalihkan duniamu seperti ini. Argh... kau bisa saja tidak lulus ujian jika terus seperti ini.”
”Kau penasaran? Harusnya bilang padaku dari kemarin-kemarin.” Aku merogoh sakuku dan mengambil dompet hitamku dan menyodorkan gambar tiga namja yang ada di dompetku pada Kibum. ”Lihatlah! Ini gambar yang kuambil saat liburan bersama. Taemin yang paling kiri dan pakai jaket hitam. Manis sekali bukan?”
”Ne, manis. Yang paling kanan itu manis. Hehe...”
”Kibum, ah.. aku tanya pendapatmu tentang Taemin,, bukan kakaknya.”
”Oh, hyungnya.. ckckck.. ne ne.. dua bersaudara yang manis. Baiklah aku akan menemanimu dengan satu syarat. "
" Syarat ? "
"Kenalkan aku pada kakaknya ya. Aku suka padanya. Hehe...” kibum nyengir kuda disisiku.
”Kau ini, selalu saja ada maunya, tapi gomawo Kibum ah.”
”Eh eh, Minho ah! Kalau yang tengah ini siapa?”
”Kakak kelasku sekaligus teman main basketku, Jonghyun hyung. Sepertinya kita akan banyak merepotkan dia nanti disana.”
”Oooh...” bibir Key membentuk bulatan dan membuat mukanya terlihat begitu menggemaskan. Dia bilang 'oh' bukan berarti dia benar-benar mengerti, tapi karena terlalu seirus memandangi foto Jinki hyung. ”Eh eh Minho ah kau punya foto-foto Jinki hyung lainnya? Boleh aku minta satu? Kalau bisa dia yang seorang diri yak. Ya..yah...”
TO be COntinue
Source by Lian Blingers
http://www.facebook.com/note.php?note_id=446497199051
Author : Lian1412
Length : Oneshot
Cast : SHINee Minho, Kibum(Key), Taemin, Jinki (Onew)
All This Fic is Minho POV
++Flash Back++
Malam hari ini hujan turun dengan teramat deras. Aku sedang ribut besar dengan ayahku mengenai rencana kepindahan kami ke Seoul saat pintu rumah diketuk dengan kerasnya.
”Minho! Minho! Minho ah!” orang yang berada di luar rumah berulang-ulang kali meneriakkan namaku. Ayahku menatap tajam padaku. Aku segera berlari menuju pintu rumah tanpa mempedulikan tatapan memuakkan itu. Jinki hyung, kakak dari kekasihku Lee Taemin, dialah yang kudapati saat pintu rumahku terbuka. Seluruh badannya basah kuyup, wajahnya nampak pucat ketakutan. “Minho ah.. apa Taemin bersamamu?” aku terkejut mendengar pertanyaan yang meluncur dari bibirnya.
“Mwo? Aniyo. Tadi dia bilang dia ada acara dengan teman-temannya. Dia belum pulang?”
“Belum. Dan ini sudah cukup larut untuknya. Apa lagi hujan turun sederas ini, aku khawatir terjadi sesuatu padanya. Akhir-akhir ini dia selalu pulang telat, tapi tidak pernah sampai selarut ini.” mendengar penjelasan Jinki hyung aku hilang kendali.
Seperti orang kesetanan aku berlari keluar rumah. Menyusuri seluruh jalan yang mungkin di lewati oleh Taemin. Langkah kakiku terhenti di sebuah pohon besar tepi sungai dimana kami biasa menghabiskan waktu bersama. Aku melihat sesosok tubuh rapuh di bawah pohon itu. Aku mendekati sosok itu perlahan. Semuanya jadi semakin gelap saat aku menyadari Taeminlah yang sedang terbaring lemah disana. Seragamnya nampak kotor, banyak sekali bekas sepatu dan noda-noda yang tak jelas.
”Taemin ah! Bangun! Kau baik-baik saja?” Aku coba mengguncang tubuh mungil yang lemah itu. Aku terus memanggil namanya namun ia tak menjawab. Tak ingin berlamaan dalam kondisi seperti itu, aku mengangkat tubuhnya dan membawanya pulang kerumahnya.
Sesampainya di kediaman Lee, aku membaringkan tubuhnya di ranjang. Dia demam tinggi dan tak sadarkan diri. Sementara Jinki hyung sibuk menyiapkan air hangat, aku membersihkan tubuhnya yang kotor dan penuh lumpur itu. Dengan perasaan yang tak menentu aku membuka satu persatu kancing seragamnya. Kaget, marah, benci, seluruh perasaan tak menentu saat melihat beberapa memar di tubuhnya. Dada, perut, pinggang, semanya tak luput dari tanda biru itu.
”Ah, Hyung!” tiba-tiba saja Taemin terbangun dan menutup tubuhnya kembali dengan kemejanya. ”Kau lihat?”
”Ta..Taemin ah...” aku shock. Selama ini, dia selalu menerima perlakuan macam apa? ”Yah! Katakan siapa yang melakukan semua ini Taemin ah!”
”Auw...” Taemin berteriak kecil saata memegang erat kedua lengannya. Dengan rasa penasaran dan berharap semua tak sesuai pemikiranku aku menyingkap lengan bajunya dan mendapati beberapa memar yang sama di lenggan putihnya.
”Taemin ah! Siapa orangnya! Katakan padaku minnie ah. Mereka harus dapat pelajaran..”
”A...aniyo hyung. Jangan lakukan itu. Aku tak ingin tangan hyung yang hangat ini melukai orang lain.” Taemin memegang kedua tanganku dengan lemah dan mengecupnya perlahan. Meski masih merasa dongkol, tapi hatiku luluh seketika. Aku hanya bisa menuruti perkataan Taemin yang terlalu baik ini.
”Yeah, aku tak akan melukai siapapun termasuk kau, aku janji. Akan tetapi, bisakah kau ceritakan padaku kenapa kau sampai mendapat perlakuan seperti ini? Dan... kenapa kau menyembunyikannya padaku selama ini?”
”Aniyo hyung, aku tak bermaksut menyembunyikan apa pun pada hyung, tapi aku memang merasa tak perlu menceritakannya. Aku takut hyung khawatir. Aku mendapat perlakuan seperti ini memang karena salahku. Aku terlalu lembek, aku penakut, aku pengecut, aku terlalu mendapat banyak perhatian dari para guru, aku selalu membawa bekal yang banyak, aku selalu lambat dalam bergerak, aku tak pandai dalam bidang olahraga. Mereka bilang wajahku memuakkan. Mungkin memang sebaiknya aku tak berangkat sekolah.”
Aku menelan ludah. Aku bingung, apa dosa Taemin? Taemin hanyalah korban kesirikan mereka. Taemin yang sebegini cantiknya, Taemin yang selalu bersikap baik tanpa cela, berani sekali mereka mengatakan hal semacam itu.
”Aniyo Taemin ah, kau harus tetap pergi sekolah. Kau kuat, aku tahu itu..”
”Ehem...” Jinki hyung datang tiba-tiba dengan membawa seember air hangat. ”Minho ah, bisakah kau menunggu di luar, aku mau menghangatkan badan Taemin dulu.”
”Don’t cry Taeminnie ah.. Everything will get better. I’m here for you" Aku berbisik pada Taemin dan mengecup pipinya tanpa sungkan kemudian bangkit dan beranjak ke luar dan menuggu di ruang tamu. Selang beberapa menit kemudian, Jinki hyung keluar dari kamar Taemin dengan wajah seirus. Dia duduk di hadapanku dan mulai berbicara denganku.
”Minho ah, jujur ini bukan kali pertama Taemin pulang larut. Sejak dia semakin akrab denganmu dia jadi sering mendapat luka-luka seperti yang kau lihat tadi.” mendengar perkataannya aku hanya diam menunduk. ”Lihatlah tempat sampah yang ada di pojokan itu, disana ada banyak buku-buku Taemin yang sudah dirusak oleh beberapa temannya. Kurasa kau harus melihatnya sendiri agar mengerti mengapa Taemin mendapat perlakuan yang tidak-tidak seperti itu.” Jinki hyung berhenti bicara dan menunduk dalam diam. Aku beranjak menuju tempat sampah dan mengambil beberapa buku yang sudah penuh dengan sobekan itu. Buku kumal yang penuh dengan coretan spidol.
’FUCK YOU!’ ’BANCIII!!! KAMU KIRA KAMU SAPA DEKETIN MINHO KITA?’ ’KAMU GAK SEPADAN DENGAN MINHO!’ ’WHAT ASHAMED!’ 'KAMU INI NAMJA BUKAN SIH???'
Coretan dengan kata-kata yang menusuk. Namaku banyak sekali disebut hampir di semua buku. Apa kedekatanku dengan Taemin itu merupakan sebuah kesalahan besar hingga Taemin harus mendapat perlakuan sekejam ini?
Di halaman terakhir, aku membaca tulisan Taemin dengan seksama. Tulisan yang seperti curahan hatinya yang membuatku terdiam kaku. Rasanya aku jadi merinding membaca tulisan ini.
Kesedihan yang mendalam menguasai hatiku. Kecantikan yang kumiliki adalah dosa. Kecantikan yang dimiliki para yeoja adalah setangkai bunga mawar, tapi jika seorang namja melebihi kencantikan seorang yeoja? Hanyalah seperti burung yang jatuh ke kubangan lumpur. Cantik dan manis. Aku yang punya jari kaki imut berwarna pink dan tubuh yang ramping bukanlah kuil yang dipuja, tetapi gudang. Tempat yang pantas untukku hanyalah gudang. Tempat para yeoja yang iri pada kecantikan dan kedekatanku dengan Flaming Charisma melampiaskan amarahnya. Aku ingin berteriak! Seaneh itukah jika namja memiliki kulit yang putih, bersih, dan halus? Seaneh itukah jika seorang namja berbadan ramping dan memiliki jemari kecil yang nampak imut? Seaneh itukah aku hingga harus dibenci banyak orang yang menyukai Minho hyung? Seanehkah aku hingga aku harus terus menerus dapatkan siksaan dari namja yang suka berbuat ulah itu?
”Kau sudah selesai membacanya? Ku rasa harusnya kau sudah dapat mengerti. Aku mohon dengan sangat tolong jauhi adikku.” Jinki hyung mendekatiku dan membukukkan tubuhnya dihadapanku. ”Tolonglah, Taemin masih harus tinggal lama di sekolah itu, tak sepertimu yang tahun depan akan lulus. Aku satu-satunya keluarganya yang tersisa memohon padamu.”
”Eh, ah hyung.. jangan seperti ini, Aku janji aku akan melindunginya. Aku pastikan keamanannya. Aku akan berusaha sekuat tenanga untuk menjauhkan dirinya dari bahaya. Aku pastikan itu!”
”Minho ah, apa kau tak mengerti juga? Ini semua karena dirimu, jika kau bersikap seperti itu, itu hanya akan meembuat masalah membesar. Mereka akan menjadi-jadi karena yang mereka inginkan itu kamu.”
”Ah...er... ne.. ” aku berkata dengan nada lemas, aku sudah tak tahu harus bagaimana lagi. Benarkah semua kisahku dengan Taemin harus berakhir seperti ini? ”Aku akan melepas Taemin. Aku juga akan pergi dari desa ini, jika itu bisa membuat Taemin hidup dengan tenang.” akhirnya aku mengucapkan kalimat seperti ini. Hal yang sebenarnya masih aku pertentangkan dengan ayahku.
”Yah! Kau tak perlu melakukan sejauh itu. Kau cukup menjauhi adikku saja.”
”Aniyo, lagi pula ayahku memang akan pindah dinas ke Seoul.” aku berkata dengan senyum yang memaksa agar Jinki hyung bisa tenang.
”Jinjja?”
”Ne. Err... aku pamit dulu. Sudah larut sekali hyung. Aku juga harus segera berkemas. Please give my love to Taeminnie.” Aku menepuk lengan Jinki hyung perlahan kemudian pergi dari kediaman Lee dengan langkah yang berat. Sesekali aku menegadah menahan tangis sambil memandangi langit malam yang nampak kelam usai hujan yang deras. Aku rasa ini adalah kali terakhir aku bertemu dengan kekasihku. Menyedihkan sekali jika kita hanya membawa beban bagi orang yang kita suka.
++End of Flash Black++
’Duak’ kepalaku terasa pening tiba-tiba sesaat setelah bola basket berwarna kemerahan mendarat dengan mulusnya di kepalaku saat jam olahraga.
”Yah! Minho ah, kau baik-baik saja?” Kibum berlari kearahku dan memegangi dahiku. Dengan cekatan dia menarikku keluar lapangan. ”Yah! Kau bilang kau sangat suka olahraga, tapi kenapa kau hanya bengong saja tadi?”
”Mianh.”
”Kau teringat dengan si mungil itu? Kau rindu padanya?”
”Ne.” Aku menyahut lemas.”
”Argh... aku tak mengerti cara pikirmu salam sekali. Kalau kau rindu kenapa tak pergi kesana saja? Temui dia.”
”Mwo?”
”Pergi dan temui dia! Bukankah setiap akhir pekan kita dapat libur, kenapa kau tak gunakan saja untuk pergi menemuinya jika kau khawatir tentang kondisinya?”
”Yah! Kenapa tak pernah terpikirkan olehku. Er... kau mau menemaniku?” Aku benar-benar merutuki diriku, kenapa tak pernah terfikirkan olehku selama sebulan disini?
”Mwo?”
”Aku tak mungkin pergi seorang diri. Aku butuh alasan untuk dapat ijin dari ayahku.”
” Aku juga penasaran seperti apa si mugil itu hingga mampu mengalihkan duniamu seperti ini. Argh... kau bisa saja tidak lulus ujian jika terus seperti ini.”
”Kau penasaran? Harusnya bilang padaku dari kemarin-kemarin.” Aku merogoh sakuku dan mengambil dompet hitamku dan menyodorkan gambar tiga namja yang ada di dompetku pada Kibum. ”Lihatlah! Ini gambar yang kuambil saat liburan bersama. Taemin yang paling kiri dan pakai jaket hitam. Manis sekali bukan?”
”Ne, manis. Yang paling kanan itu manis. Hehe...”
”Kibum, ah.. aku tanya pendapatmu tentang Taemin,, bukan kakaknya.”
”Oh, hyungnya.. ckckck.. ne ne.. dua bersaudara yang manis. Baiklah aku akan menemanimu dengan satu syarat. "
" Syarat ? "
"Kenalkan aku pada kakaknya ya. Aku suka padanya. Hehe...” kibum nyengir kuda disisiku.
”Kau ini, selalu saja ada maunya, tapi gomawo Kibum ah.”
”Eh eh, Minho ah! Kalau yang tengah ini siapa?”
”Kakak kelasku sekaligus teman main basketku, Jonghyun hyung. Sepertinya kita akan banyak merepotkan dia nanti disana.”
”Oooh...” bibir Key membentuk bulatan dan membuat mukanya terlihat begitu menggemaskan. Dia bilang 'oh' bukan berarti dia benar-benar mengerti, tapi karena terlalu seirus memandangi foto Jinki hyung. ”Eh eh Minho ah kau punya foto-foto Jinki hyung lainnya? Boleh aku minta satu? Kalau bisa dia yang seorang diri yak. Ya..yah...”
TO be COntinue
Source by Lian Blingers
http://www.facebook.com/note.php?note_id=446497199051
Sabtu, 24 Juli 2010
FF [CHECKMATE MY WILD SOUL]
Title : Checkmate My Wild Soul
Author : Lian 1412
Length : Oneshot
Cast : Onjongkey
Lian Jongkey Cassie Royal as Lee Sora and Lian
Ari Jongkey Cassiopeia as Kim Hyuna
++Kibum POV++
Bintang yang paling bersinar terang itulah aku. Mungkin terkesan terlalu arogan dan sombong, tapi memang begitulah adanya. Orang yang selalu tampil mencolok diantara orang-orang cupu yang kutu buku ini adalah aku Kim Kibum. Meski aku sekolah di sekolah unggulan Daegu YoungSinGo High School, belajar di kelas unggulan dan pernah ikut pertukaran pelajar ke luar negeri, aku tak mau disebut si kuper. Meski pandai, aku gak mau dandan seperti teman-temanku, pake kacamata tebel, rambut berwarna hitam legam yang disisir rapi, kemeja yang dikancingkan hingga atas, tingkah laku dan segala perkataan yang terikat tata krama, dan tak lupa dengan setumpuk buku kemana pun ia pergi. Aish... Hidup cuma sekali, kenapa gak kita nikmati aja?
================
Minggu. Hari yang cerah untuk bermain, tapi hari ini aku harus berangkat ke sekolah. Sekolah swasta unggulan dari kota sebelah datang berkunjung dan kami para murid kelas unggulan di wajibkan untuk menyambut kedatangan mereka. Aku lupa nama sekolahnya apa, yang jelas aku berangkat ke sekolah dengan penampilan yang sesuka hatiku. Tak kupedulikan peraturan sekolah seperti biasanya karena bagiku penampilan adalah nomer satu.
"Yah! Kibum ah! Apa-apaan kau ini?" Sesampainya di sekolah, ketua kelas yang entah namanya siapa, aku lupa menarik tubuhku kemudian membantingku ke tembok dekat toilet. Kali ini dia menatap mataku tajam seolah binatang yang penuh amarah dan nafsu membunuh.
"Apa-apaan? Kau ini yang apa-apaan? Kau mau memperkosaku di depan banyak orang?"
'Plak' tamparan yeoja pendek itu begitu saja mendarat di pipiku.
"Paboya! Oh, God, it can't be helped! Yah! Kim Kibum ah~ kenapa kau berpakaian seperti ini? Ini di sekolah. Harusnya kau mengenakan seragammu."
"Hm? Kenapa harus begitu? Ini hari minggu dan tak ada seragam untuk hari minggu bukan?"
"Ta..tapi.. Aish, kau ini selalu saja seenaknya. Mentang-mentang peringkat pertama dan pernah ikut pertukaran pelajar kau jadi seenaknya seperti ini. Dasar susah diatur. Terserah kau sajalah. Kalau pun kau pakai seragammu pasti kau tak akan memakainya dengan benar." usai berceloteh yang tak jelas, yeoja itu pun pergi meninggalkanku.
"Hah... sekali nomer 2, tetap saja nomer 2." Aku berkata lirih tapi sinis. Aku yakin si pendek nomer dua itu pasti mampu mendengarnya, hanya saja ia tetap saja bertampang kaku seperti tadi. Memuakkan. Aku berjalan santai menuju gedung pertemuan tempat semuanya berada.
'DEG'
Setelah melihat pemandangan yang ada di pojok gedung pertemuan, ada yang aneh pada diriku. Langkahku terhenti, jantungku berdebar begitu cepat, seluruh diri ini seakan dibakar api semangat yang membara. Tak kuasa menahan diri, aku menarik lengan salah seorang temanku yang kebetulan melintas di dekatku.
"Hyuna! Yang dipojok sedang baca panduan itu murid sekolah sebelah juga?"
"Hm? Yang mana?"
"Itu tuh, yang dipojok." Aku menunjuk dua orang yang kumaksut.
"Oh, dua namja cakep itu? Iya. Waeyo? Ketemu ama yang sejenis? Pengen kenalan? Yang pake kemeja kuning itu namanya Kim Jonghyun, dia bukan murid unggulan di sekolahnya, tapi dia cukup populer karena bakat musik dan kekayaannya. Sebelahnya Lee Jinki, dia juga kaya dan termasuk peringkat kedua di sekolahnya. Mereka berdua istimewa karena prestasi dan kekayaan yang mereka punya, maka dari itu mereka dibiarkan bertingkah dan bersolek sesuka mereka. Yah, mirip sepertimu ini. Sudah ya. Aku mau urus konsumsi di belakang."
"Ah, ne. gomawoyo." Salah seorang dari kedua namja itu melihatku dan melemparkan sebuah senyuman manis yang seketika membuat hatiku meleleh. Ada yang aneh pada diriku. Jiwaku terasa semakin liar. Aku menyukainya, dan sepontan aku berjalan cepat kearahnya dan menunjuknya. "Yah! Kau! Choenun Kim Kibum imnida! Aku suka padamu! Malam ini kau harus datang kerumahku! Aku tak mau dengar alasan, aku mau lihat tindakan!" Dengan jelas dapat kulihat wajah terkejutnya dan sejuta pandangan aneh yang tertuju padaku setelah mendengar suaraku yang begitu lantang ini. Aku tak peduli. Aku segera keluar dari gedung itu dan pulang. Aku mau mempersiapkan segala sesuatunya untuk nanti malam.
=======================
'Shoujun awashite aimai na yume no naka no hyouteki neratte~ CHOTTO jirashichatte ai to tawamure nagara toki wo oyoideru~ Risei nante IRANAI Love you Tonight~' Kubiarkan dentuman keras keluar begitu aja dari tapeku. Lagu Wild Soul yang dibawakan Changmin itu terdengar di seluruh penjuru rumah yang tak ada orang selain aku dan para pembantu. Di rumah yang terasa dingin ini aku menutupi kecemasanku dengan suara keras ini. Aku cemas dan berdebar tak karuan menanti orang yang kulupa namanya. Aish, betapa payahnya diriku yang melupakan nama orang yang kusuka. Mulai saat ini aku bertekat untuk tidak boleh lupa nama orang lagi.
'Hey! Come on!~ Get WILD!! Shaking My SOUL Let me feel what I've never seen~ You're gonna baby, baby be my Angel just take you I wanna get you~' lagu yang sama masih berdentum dengan kerasnya di rumah ini meski jam telah menunjukkan pukul 12 lewat. Aish, sudah ganti hari ternyata. Kenapa dia tak jua tiba? Aku menatap sendu pada makan malam yang mulai mendingin. Kemana hilangnya semangatku saat memasak tadi? Sekarang harapanku sirna sudah.
"Hah~" Aku menghela napas panjang dan merebahkan tubuhku di ruang tamu masih kubiarkan terbuka.
===============
Sekolah. Kali ini ada yang beda dengan penampilanku. Dengan adanya kejadian kemarin, kepala sekolah dan guru-guru lainnya pasti marah besar padaku. Maka dari itu, hari ini aku tampil beda. Tampil sewajarnya seorang murid terpelajar dan memasang tampang alim. Huft. Aman. Mereka tak mungkin mendepak siswa serba bisa sepertiku. Kekeke~
Sepulang sekolah, ada yang aneh. Teman dari orang yang kusuka yang entah namanya siapa aku lupa itu datang ke sekolah dan secara kebetulan berpaspasan denganku.
"Yah! Ada perlu apa kau kemari huh?"
"Kau! Yah! Ada apa dengan penampilanmu? Hampir saja aku tak mengenalimu tadi."
"Penampilanku itu urusanku. Bukan urusanmu. Jadi, kenapa kau kemari huh?"
"Aku datang kemari itu urusanku, bukan urusanmu."
"Jelas saja urusanku. Kau datang ke sekolahku."
"Ok. fine. Aku mau cari Lee Sora. Kau tahu dia dimana sekarang?"
"Lee.. Siapa tadi?"
"Lee Sora!"
"Lee Sora? Ehm.. Aish, aku lupa. Aku bukan tipe anak yang gampang inget nama orang. Emang dia siapa ya? Orang penting?"
"Dia ketua kelas unggulan disini. Kamu gak kenal?"
"Ketua kelas? Yah! Maksutmu si pendek nomer dua itu? Ada urusan apa kau dengannya?"
"Memangnya harus kujelaskan padamu setelah kau menghina jagiyaku?"
"MWO????? Sejak kapan?"
"Aish, tak perlu histeris seperti itulah, sejak kemarin. Memangnya kenapa? Kau juga suka padanya? Bukannya kau suka temanku?"
"Ani! Aniyo! bagaimana mungkin seorang Kim Kibum suka yeoja cerewet yang sok perfect itu? Aku hanya kaget padahal dia paling benci dengan orang seenaknya sepertiku, tapi kenapa dia bisa jatuh cinta pada orang yang sejenis denganku sepertimu ini?"
"Sejenis? Jangan samakan aku denganmu. Aku punya kelebihan."
"Kelebihan?"
"Aku bisa menjatuhkan hati para yeoja dengan suaraku."
"Yah! Cuma itu ternyata. Aku lebih punya banyak kelebihan dari pada kau. Aku serba bisa, aku jago dalam pelajaran, dan aku juga jago dalam memasak."
"Haha.. Kalau itu sih saingannya para yeoja. Mana ada yeoja yang suka padamu? Ups, kau memang gak suka yeoja sih. Keke~"
"Oh iya. Mana temanmu itu? Aku sudah menyuruhnya datang kerumahku kenapa tak datang?"
"It's all your fault. Dia sih udah niat dateng, tapi kamu gak bilang alamat rumahmu sih, bagaimana bisa dia datang?"
"Ah.. alasan. Dia kan bisa tanya siapa gitu kek. Di sekolah ini aku kan cukup terkenal." Lagi-lagi aku membanggakan diriku entah untuk keberapa kalinya,.
"Jonghyun oppa!" tiba-tiba Lee Sora datang dan meraih lengan namja yang sedari tadi berbincang-bincang dengan Kibum. "Nunggu lama?"
"Aniyo..." Pemuda yang dipanggil Jonghyun tersenyum manis pada yeoja itu.
"Heh, pendek. Seleramu sudah berubah sekarang?" Aku kesal sekali melihat pemandangan mesra ini dan memandang sinis ke arah Sora.
"Ah.. eh.. bukan urusanmu! Ayo oppa." Sambil menahan rasa malunya yang teramat, Sora menarik lengan Jonghyun untuk menjauh dariku.
"Yah! Kau! Jonghyun! Bilang ke temanmu itu, aku kecewa padanya! Suruh dia anggap aku tak pernah bilang suka ke dia!" Aku berteriak kesal. Hatiku dongkol karena merasa kalah dari kemesraan mereka.
++End of Kibum POV++
=========
++Jinki POV++
Aku baru saja meneguk jus jerukku ketika Jonghyun datang dan menyampaikan pesan Kibum, namja yang kusukai pada pandangan pertama di Daegu YoungSinGo High School kemarin.
"Mwo? Dia bilang seperti itu? Aish... Menurutmu aku harus bagaimana?"
"Yah, datang kerumahnya dan minta maaf. Eh, tapi aku penasaran, bagaimana bisa kau suka pada orang secerewet dia?"
"Cerewet? menurutmu begitu? Menurutku dia manis. Dia mirip denganmu. Orang yang spontan dan unik. Dia bahkan terlihat lebih cantik dari segala yeoja yang pernah ada termasuk jagiyamu itu. Siapa namanya?"
"Sial,. Kalian berdua memang serasi. Suka sekali lupa nama orang. Namanya Lee Sora."
"Yah! Lee Sora... Haha.. mianh aku melupakannya,. Oh iya bukannya Sora itu teman sekelasnya, siapa tahu dia bisa membantu."
"Bisa membantu? Jika dilihat dari hubungan mereka yang seperti itu I don't think so."
"Yah, paling nggak dia tahu alamat Kibum bukan?"
"Yah, gak ada salahnya dicoba." Jinki tersenyum cerah masih berharap bunga cinta saat pandangan pertama itu dapat semakin mekar dan bersemi dihatinya.
++End of Jinki POV++
==========
++Kibum POV++
Ada yang aneh pada diriku, dan kusadari itu. Ini semua karena aku bertemu pandang dengan namja itu, karena aku melihat senyum manis yang ia tujukan padaku. Aish... Gara-gara namja tak bertanggung jawab itu urusan sekolahku mulai kacau. Masakanku pun juga jadi terasa aneh. Dia telah bangkitkan jiwaku yang liar kemudian membuatku kecewa begitu saja. Tapi kenapa sampai sekarang aku tak bisa berhenti memikirkannya? Senyum manisnya yang hanya ditujukan padaku. Aku selalu membayangkan hal yang lebih. Hal yang Aish, segalanya tentang dia.
"Tuan muda, ada tamu." Pelayanku yang keturunan jepang bernama Lian masuk ke dalam kamar dengan hati-hati karna tahu suasana hatiku sedang buruk akhir-akhir ini.
"Tamu?" Aku yang sudah siap untuk tidur itu bertanya penasaran. Tamu malam-malam begini?
"Ne. Sedang menunggu di ruang tamu. Saya permisi dulu." Aku segera keluar dari kamarku dan menuju ruang tamu... OMG.. betapa kaget, senang, haru, aish.. rasanya campur aduk melihat si namja manis itu tengah duduk di ruang tamu. Akan tetapi aku tak mau dia lihat rasa bahagiaku kini. Bagaimanapun juga ia telah buatku kecewa. " Yah! Kau! Siapa namamu? Ada urusan apa kau datang kemari huh?"
"Aish, Choneun Lee Jinki imnida dari ChungOon High School. Aku ingin memenuhi permintaanmu beberapa hari lalu." Jinki. Namanya Jinki. Mulai sekarang aku tak boleh lagi lupa dengan nama ini.
"Yah! Apa kau pikun? Aku bilang waktu itu malam itu juga. Waktunya sudah lewat."
"Aish... itu.. mianh.. aku tak tahu rumahmu dan kupikir kau hanya becanda."
"Becanda? Di depan orang banyak seperti itu?"
"Er.. Jongmal Mianheyo... ini aku bawakan boneka sebagai tanda maaf. " Aish, senyumnya.. Dia keluarkan lagi senyum yang mampu membuatku meleleh itu. "Kau masih suka padaku kan? I hope so 'cz I luv u. Saranghae." OMG! Dia bilang cinta... membuat rasa benci, kecewa dan segala rasa kesal di hatiku sirna. Spontan Jiwaku yang liar bangkit dan tak tertahankan lagi.
"Nado Saranghae." Jawabku cepat sambil memeluk tubuhnya. Aku benar-benar telah kehilangan akalku semenjak dia ucapkan cinta. Rasa benci dan gengsi hilang seketika. Apa aku ini namja yang cukup murahan? Aku meraih boneka yang ia berikan padaku dan langsung menariknya ke ruang makan. "Kau tunggu disini dulu. Aku buatkan makan malam untukmu." Dengan tampang canggung dan sedikit kebingungan dia duduk di ruang makan. Aku segera melesat ke dapur dan memasakkan berbagai masakan andalanku sambil membayangkan apa saja yang akan aku lakukan dengannya setelah ini. Khayalan dari jiwaku yang liar satu per satu mulai bermunculan dan membuatku tersenyum penuh arti.
Aku kembali ke ruang makan dan memakan masakan buatanku bersama Jinki. Kubiarkan kata-kata romantis yang keluar dari suara manis seorang Lee Jinki mengalun lembut. Aish.. aku sudah tak tahan lagi.
"Jinki ah, hentikan semua ini."
"huh?"
"Kemarilah lebih dekat denganku." Jinki menggeser tempat duduknya hingga lebih dekat denganku. "Jinki ah.. saranghae..." Aku mulai bersikap manja padanya.
"Na do saranghae." mendengar jawabannya jiwa liarku semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar tak kuasa menahannya. Aku bangkit dari tempat dudukku dan beranjak menuju ruang tengah, tapi Jinki mengikutiku. Seakan tahu pikiranku, Jinki menarik lenganku dan berbicara, "Rasanya malam ini aku gak bisa pulang karena kamu ada disini."
"Tapi, apa orang tuamu tak mencarimu?"
"Itu urusan gampang. Aku bisa minta Jonghyun untuk carikan alasan. My charm is yours from now on." Mendengar kalimat terakhirnya jiwa liarku semakin membludak. Jantungku berdebar semakin cepat. Kata-katanya barusan seakan memberiku harapan yang semakin menjadi-jadi. Aku memeluk erat tubuhnya dan tak akan kulepas hingga esok tiba.
"Saranghae!" kalimat itu seakan sudah menjadi bagian dari hidupku yang akan terus kuucapkan hanya untuknya seorang. Aku pastikan itu.
~END~
Source by Lian Blingers
http://www.facebook.com/profile.php?id=1233381931&v=app_2347471856&ref=ts#!/notes.php?id=1233381931&start=0&hash=f838cf5a77cf4817c17f77d4070f591b
Author : Lian 1412
Length : Oneshot
Cast : Onjongkey
Lian Jongkey Cassie Royal as Lee Sora and Lian
Ari Jongkey Cassiopeia as Kim Hyuna
++Kibum POV++
Bintang yang paling bersinar terang itulah aku. Mungkin terkesan terlalu arogan dan sombong, tapi memang begitulah adanya. Orang yang selalu tampil mencolok diantara orang-orang cupu yang kutu buku ini adalah aku Kim Kibum. Meski aku sekolah di sekolah unggulan Daegu YoungSinGo High School, belajar di kelas unggulan dan pernah ikut pertukaran pelajar ke luar negeri, aku tak mau disebut si kuper. Meski pandai, aku gak mau dandan seperti teman-temanku, pake kacamata tebel, rambut berwarna hitam legam yang disisir rapi, kemeja yang dikancingkan hingga atas, tingkah laku dan segala perkataan yang terikat tata krama, dan tak lupa dengan setumpuk buku kemana pun ia pergi. Aish... Hidup cuma sekali, kenapa gak kita nikmati aja?
================
Minggu. Hari yang cerah untuk bermain, tapi hari ini aku harus berangkat ke sekolah. Sekolah swasta unggulan dari kota sebelah datang berkunjung dan kami para murid kelas unggulan di wajibkan untuk menyambut kedatangan mereka. Aku lupa nama sekolahnya apa, yang jelas aku berangkat ke sekolah dengan penampilan yang sesuka hatiku. Tak kupedulikan peraturan sekolah seperti biasanya karena bagiku penampilan adalah nomer satu.
"Yah! Kibum ah! Apa-apaan kau ini?" Sesampainya di sekolah, ketua kelas yang entah namanya siapa, aku lupa menarik tubuhku kemudian membantingku ke tembok dekat toilet. Kali ini dia menatap mataku tajam seolah binatang yang penuh amarah dan nafsu membunuh.
"Apa-apaan? Kau ini yang apa-apaan? Kau mau memperkosaku di depan banyak orang?"
'Plak' tamparan yeoja pendek itu begitu saja mendarat di pipiku.
"Paboya! Oh, God, it can't be helped! Yah! Kim Kibum ah~ kenapa kau berpakaian seperti ini? Ini di sekolah. Harusnya kau mengenakan seragammu."
"Hm? Kenapa harus begitu? Ini hari minggu dan tak ada seragam untuk hari minggu bukan?"
"Ta..tapi.. Aish, kau ini selalu saja seenaknya. Mentang-mentang peringkat pertama dan pernah ikut pertukaran pelajar kau jadi seenaknya seperti ini. Dasar susah diatur. Terserah kau sajalah. Kalau pun kau pakai seragammu pasti kau tak akan memakainya dengan benar." usai berceloteh yang tak jelas, yeoja itu pun pergi meninggalkanku.
"Hah... sekali nomer 2, tetap saja nomer 2." Aku berkata lirih tapi sinis. Aku yakin si pendek nomer dua itu pasti mampu mendengarnya, hanya saja ia tetap saja bertampang kaku seperti tadi. Memuakkan. Aku berjalan santai menuju gedung pertemuan tempat semuanya berada.
'DEG'
Setelah melihat pemandangan yang ada di pojok gedung pertemuan, ada yang aneh pada diriku. Langkahku terhenti, jantungku berdebar begitu cepat, seluruh diri ini seakan dibakar api semangat yang membara. Tak kuasa menahan diri, aku menarik lengan salah seorang temanku yang kebetulan melintas di dekatku.
"Hyuna! Yang dipojok sedang baca panduan itu murid sekolah sebelah juga?"
"Hm? Yang mana?"
"Itu tuh, yang dipojok." Aku menunjuk dua orang yang kumaksut.
"Oh, dua namja cakep itu? Iya. Waeyo? Ketemu ama yang sejenis? Pengen kenalan? Yang pake kemeja kuning itu namanya Kim Jonghyun, dia bukan murid unggulan di sekolahnya, tapi dia cukup populer karena bakat musik dan kekayaannya. Sebelahnya Lee Jinki, dia juga kaya dan termasuk peringkat kedua di sekolahnya. Mereka berdua istimewa karena prestasi dan kekayaan yang mereka punya, maka dari itu mereka dibiarkan bertingkah dan bersolek sesuka mereka. Yah, mirip sepertimu ini. Sudah ya. Aku mau urus konsumsi di belakang."
"Ah, ne. gomawoyo." Salah seorang dari kedua namja itu melihatku dan melemparkan sebuah senyuman manis yang seketika membuat hatiku meleleh. Ada yang aneh pada diriku. Jiwaku terasa semakin liar. Aku menyukainya, dan sepontan aku berjalan cepat kearahnya dan menunjuknya. "Yah! Kau! Choenun Kim Kibum imnida! Aku suka padamu! Malam ini kau harus datang kerumahku! Aku tak mau dengar alasan, aku mau lihat tindakan!" Dengan jelas dapat kulihat wajah terkejutnya dan sejuta pandangan aneh yang tertuju padaku setelah mendengar suaraku yang begitu lantang ini. Aku tak peduli. Aku segera keluar dari gedung itu dan pulang. Aku mau mempersiapkan segala sesuatunya untuk nanti malam.
=======================
'Shoujun awashite aimai na yume no naka no hyouteki neratte~ CHOTTO jirashichatte ai to tawamure nagara toki wo oyoideru~ Risei nante IRANAI Love you Tonight~' Kubiarkan dentuman keras keluar begitu aja dari tapeku. Lagu Wild Soul yang dibawakan Changmin itu terdengar di seluruh penjuru rumah yang tak ada orang selain aku dan para pembantu. Di rumah yang terasa dingin ini aku menutupi kecemasanku dengan suara keras ini. Aku cemas dan berdebar tak karuan menanti orang yang kulupa namanya. Aish, betapa payahnya diriku yang melupakan nama orang yang kusuka. Mulai saat ini aku bertekat untuk tidak boleh lupa nama orang lagi.
'Hey! Come on!~ Get WILD!! Shaking My SOUL Let me feel what I've never seen~ You're gonna baby, baby be my Angel just take you I wanna get you~' lagu yang sama masih berdentum dengan kerasnya di rumah ini meski jam telah menunjukkan pukul 12 lewat. Aish, sudah ganti hari ternyata. Kenapa dia tak jua tiba? Aku menatap sendu pada makan malam yang mulai mendingin. Kemana hilangnya semangatku saat memasak tadi? Sekarang harapanku sirna sudah.
"Hah~" Aku menghela napas panjang dan merebahkan tubuhku di ruang tamu masih kubiarkan terbuka.
===============
Sekolah. Kali ini ada yang beda dengan penampilanku. Dengan adanya kejadian kemarin, kepala sekolah dan guru-guru lainnya pasti marah besar padaku. Maka dari itu, hari ini aku tampil beda. Tampil sewajarnya seorang murid terpelajar dan memasang tampang alim. Huft. Aman. Mereka tak mungkin mendepak siswa serba bisa sepertiku. Kekeke~
Sepulang sekolah, ada yang aneh. Teman dari orang yang kusuka yang entah namanya siapa aku lupa itu datang ke sekolah dan secara kebetulan berpaspasan denganku.
"Yah! Ada perlu apa kau kemari huh?"
"Kau! Yah! Ada apa dengan penampilanmu? Hampir saja aku tak mengenalimu tadi."
"Penampilanku itu urusanku. Bukan urusanmu. Jadi, kenapa kau kemari huh?"
"Aku datang kemari itu urusanku, bukan urusanmu."
"Jelas saja urusanku. Kau datang ke sekolahku."
"Ok. fine. Aku mau cari Lee Sora. Kau tahu dia dimana sekarang?"
"Lee.. Siapa tadi?"
"Lee Sora!"
"Lee Sora? Ehm.. Aish, aku lupa. Aku bukan tipe anak yang gampang inget nama orang. Emang dia siapa ya? Orang penting?"
"Dia ketua kelas unggulan disini. Kamu gak kenal?"
"Ketua kelas? Yah! Maksutmu si pendek nomer dua itu? Ada urusan apa kau dengannya?"
"Memangnya harus kujelaskan padamu setelah kau menghina jagiyaku?"
"MWO????? Sejak kapan?"
"Aish, tak perlu histeris seperti itulah, sejak kemarin. Memangnya kenapa? Kau juga suka padanya? Bukannya kau suka temanku?"
"Ani! Aniyo! bagaimana mungkin seorang Kim Kibum suka yeoja cerewet yang sok perfect itu? Aku hanya kaget padahal dia paling benci dengan orang seenaknya sepertiku, tapi kenapa dia bisa jatuh cinta pada orang yang sejenis denganku sepertimu ini?"
"Sejenis? Jangan samakan aku denganmu. Aku punya kelebihan."
"Kelebihan?"
"Aku bisa menjatuhkan hati para yeoja dengan suaraku."
"Yah! Cuma itu ternyata. Aku lebih punya banyak kelebihan dari pada kau. Aku serba bisa, aku jago dalam pelajaran, dan aku juga jago dalam memasak."
"Haha.. Kalau itu sih saingannya para yeoja. Mana ada yeoja yang suka padamu? Ups, kau memang gak suka yeoja sih. Keke~"
"Oh iya. Mana temanmu itu? Aku sudah menyuruhnya datang kerumahku kenapa tak datang?"
"It's all your fault. Dia sih udah niat dateng, tapi kamu gak bilang alamat rumahmu sih, bagaimana bisa dia datang?"
"Ah.. alasan. Dia kan bisa tanya siapa gitu kek. Di sekolah ini aku kan cukup terkenal." Lagi-lagi aku membanggakan diriku entah untuk keberapa kalinya,.
"Jonghyun oppa!" tiba-tiba Lee Sora datang dan meraih lengan namja yang sedari tadi berbincang-bincang dengan Kibum. "Nunggu lama?"
"Aniyo..." Pemuda yang dipanggil Jonghyun tersenyum manis pada yeoja itu.
"Heh, pendek. Seleramu sudah berubah sekarang?" Aku kesal sekali melihat pemandangan mesra ini dan memandang sinis ke arah Sora.
"Ah.. eh.. bukan urusanmu! Ayo oppa." Sambil menahan rasa malunya yang teramat, Sora menarik lengan Jonghyun untuk menjauh dariku.
"Yah! Kau! Jonghyun! Bilang ke temanmu itu, aku kecewa padanya! Suruh dia anggap aku tak pernah bilang suka ke dia!" Aku berteriak kesal. Hatiku dongkol karena merasa kalah dari kemesraan mereka.
++End of Kibum POV++
=========
++Jinki POV++
Aku baru saja meneguk jus jerukku ketika Jonghyun datang dan menyampaikan pesan Kibum, namja yang kusukai pada pandangan pertama di Daegu YoungSinGo High School kemarin.
"Mwo? Dia bilang seperti itu? Aish... Menurutmu aku harus bagaimana?"
"Yah, datang kerumahnya dan minta maaf. Eh, tapi aku penasaran, bagaimana bisa kau suka pada orang secerewet dia?"
"Cerewet? menurutmu begitu? Menurutku dia manis. Dia mirip denganmu. Orang yang spontan dan unik. Dia bahkan terlihat lebih cantik dari segala yeoja yang pernah ada termasuk jagiyamu itu. Siapa namanya?"
"Sial,. Kalian berdua memang serasi. Suka sekali lupa nama orang. Namanya Lee Sora."
"Yah! Lee Sora... Haha.. mianh aku melupakannya,. Oh iya bukannya Sora itu teman sekelasnya, siapa tahu dia bisa membantu."
"Bisa membantu? Jika dilihat dari hubungan mereka yang seperti itu I don't think so."
"Yah, paling nggak dia tahu alamat Kibum bukan?"
"Yah, gak ada salahnya dicoba." Jinki tersenyum cerah masih berharap bunga cinta saat pandangan pertama itu dapat semakin mekar dan bersemi dihatinya.
++End of Jinki POV++
==========
++Kibum POV++
Ada yang aneh pada diriku, dan kusadari itu. Ini semua karena aku bertemu pandang dengan namja itu, karena aku melihat senyum manis yang ia tujukan padaku. Aish... Gara-gara namja tak bertanggung jawab itu urusan sekolahku mulai kacau. Masakanku pun juga jadi terasa aneh. Dia telah bangkitkan jiwaku yang liar kemudian membuatku kecewa begitu saja. Tapi kenapa sampai sekarang aku tak bisa berhenti memikirkannya? Senyum manisnya yang hanya ditujukan padaku. Aku selalu membayangkan hal yang lebih. Hal yang Aish, segalanya tentang dia.
"Tuan muda, ada tamu." Pelayanku yang keturunan jepang bernama Lian masuk ke dalam kamar dengan hati-hati karna tahu suasana hatiku sedang buruk akhir-akhir ini.
"Tamu?" Aku yang sudah siap untuk tidur itu bertanya penasaran. Tamu malam-malam begini?
"Ne. Sedang menunggu di ruang tamu. Saya permisi dulu." Aku segera keluar dari kamarku dan menuju ruang tamu... OMG.. betapa kaget, senang, haru, aish.. rasanya campur aduk melihat si namja manis itu tengah duduk di ruang tamu. Akan tetapi aku tak mau dia lihat rasa bahagiaku kini. Bagaimanapun juga ia telah buatku kecewa. " Yah! Kau! Siapa namamu? Ada urusan apa kau datang kemari huh?"
"Aish, Choneun Lee Jinki imnida dari ChungOon High School. Aku ingin memenuhi permintaanmu beberapa hari lalu." Jinki. Namanya Jinki. Mulai sekarang aku tak boleh lagi lupa dengan nama ini.
"Yah! Apa kau pikun? Aku bilang waktu itu malam itu juga. Waktunya sudah lewat."
"Aish... itu.. mianh.. aku tak tahu rumahmu dan kupikir kau hanya becanda."
"Becanda? Di depan orang banyak seperti itu?"
"Er.. Jongmal Mianheyo... ini aku bawakan boneka sebagai tanda maaf. " Aish, senyumnya.. Dia keluarkan lagi senyum yang mampu membuatku meleleh itu. "Kau masih suka padaku kan? I hope so 'cz I luv u. Saranghae." OMG! Dia bilang cinta... membuat rasa benci, kecewa dan segala rasa kesal di hatiku sirna. Spontan Jiwaku yang liar bangkit dan tak tertahankan lagi.
"Nado Saranghae." Jawabku cepat sambil memeluk tubuhnya. Aku benar-benar telah kehilangan akalku semenjak dia ucapkan cinta. Rasa benci dan gengsi hilang seketika. Apa aku ini namja yang cukup murahan? Aku meraih boneka yang ia berikan padaku dan langsung menariknya ke ruang makan. "Kau tunggu disini dulu. Aku buatkan makan malam untukmu." Dengan tampang canggung dan sedikit kebingungan dia duduk di ruang makan. Aku segera melesat ke dapur dan memasakkan berbagai masakan andalanku sambil membayangkan apa saja yang akan aku lakukan dengannya setelah ini. Khayalan dari jiwaku yang liar satu per satu mulai bermunculan dan membuatku tersenyum penuh arti.
Aku kembali ke ruang makan dan memakan masakan buatanku bersama Jinki. Kubiarkan kata-kata romantis yang keluar dari suara manis seorang Lee Jinki mengalun lembut. Aish.. aku sudah tak tahan lagi.
"Jinki ah, hentikan semua ini."
"huh?"
"Kemarilah lebih dekat denganku." Jinki menggeser tempat duduknya hingga lebih dekat denganku. "Jinki ah.. saranghae..." Aku mulai bersikap manja padanya.
"Na do saranghae." mendengar jawabannya jiwa liarku semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar tak kuasa menahannya. Aku bangkit dari tempat dudukku dan beranjak menuju ruang tengah, tapi Jinki mengikutiku. Seakan tahu pikiranku, Jinki menarik lenganku dan berbicara, "Rasanya malam ini aku gak bisa pulang karena kamu ada disini."
"Tapi, apa orang tuamu tak mencarimu?"
"Itu urusan gampang. Aku bisa minta Jonghyun untuk carikan alasan. My charm is yours from now on." Mendengar kalimat terakhirnya jiwa liarku semakin membludak. Jantungku berdebar semakin cepat. Kata-katanya barusan seakan memberiku harapan yang semakin menjadi-jadi. Aku memeluk erat tubuhnya dan tak akan kulepas hingga esok tiba.
"Saranghae!" kalimat itu seakan sudah menjadi bagian dari hidupku yang akan terus kuucapkan hanya untuknya seorang. Aku pastikan itu.
~END~
Source by Lian Blingers
http://www.facebook.com/profile.php?id=1233381931&v=app_2347471856&ref=ts#!/notes.php?id=1233381931&start=0&hash=f838cf5a77cf4817c17f77d4070f591b
FF [GET DOWN CHAP 1]
Title : Get Down Chap 1
Author : Lian1412
Main Cast : 2Min (TaeMinho)
Other Cast : OnKey
~Minho POV~
Kamar mandi sekolah. Tak terlalu kotor, tapi tak bisa disebut bersih. Sekali lagi aku menata seragamku di depan cermin yang ada kemudian beranjak meninggalkan toilet sekolah ini. Aku berkaca sambil mengagumi keteampanan diriku sendiri. Setiap hari terasa menyenangkan. Aku punya banyak teman dan yeoja yang menyukaiku. Yah, itu karena aku adalah seorang faming charisma.
'Brugh' Tiba-tiba saja ada yang menubruk tubuhku. Kim Kibum teman sekelasku. Tanpa minta sempat minta maaf, dia terus langsung pergi memasuki toilet. Sesaat kemudian kudengar suara isak tangis dari dalam toilet. Seorang Kibum yang selalu tertawa riang itu menangis? Aneh.
'Brugh' Lagi-lagi tubuh yang berada tepat di depan toilet sekolah ini ditubruk lagi oleh seorang namja. Kali ini Lee Jinki ketua kelasku. Berbeda dengan yang tadi, ia masih sempat minta maaf padaku meski nampak terburu-buru.
"Ah, mianhamnida." Jinki sedikit menunduk kemudian masuk toilet. Samar-samar kudengar Jinki dan Kibum berbicara mengenai perihal kehamilan. Kehamilan? Maksutnya Kibum hamil? Bagaimana bisa? Tapi mereka itu 'kan seorang namja. Entah bagaimana cerita jealsnya itu bukan urusanku. Aku pun berjalan menuju kelas.
'Brugh' Lagi? Huft. Aku mendengus kesal ingin memarahinya. Bagaimana mungkin seorang Choi Minho yang memiliki tinggi badah 180cm ini sampai kena tubruk 3 kali dalam selang waktu yang tak cukup lama? Namun begitu menyadari bahwa yang telah menubrukku kali ini adalah seorang yeoja manis, aku pun tak jadi marah padanya.
"Aish, mianhamnida."
"Ah... ne. Kau anak baru?"
"Ne
"Yah! Siapa namamu?"
"Lee..."
"Lee?"
"Lee Taemin."
"Ooh... Lee Taemin ah~ Aku suka kau. Maukah kau jadi pacarku?"
"Mwo?"
"Kau mau jadi pacarku?"
"Aniyo, kau sudah gila?" 'Brugh' Taemin memukulkan buku-buku tebal yang ia bawa kearahku.
"Aish, yeoja manis sepertimu tak baik bersikap kasar seperti ini."
"Pabo! Apa kau tak paham dari seragam yang kukenakan ini? Ini seragam untuk namja. Aku ini namja pabo!" 'Brugh' Lagi-lagi taemin memukulkan buku-buku tebal yang dibawanya kepadaku kemudian berlalu.
"Mwo? Namja? Aish, pantas saja seragamnya seperti itu. Kukira dia itu yeoja manis yang punya hobi aneh berpakaian layaknya namja. Huft.." Aku menghela nafas."Tapi sepertinya aku benar-benar jatuh hati padanya. Apakah ada yang rusak pada syaraf otakku karena berulang kali kena tubruk orang? Aish, entahlah, kurasa aku perlu istirahat." Aku pun berjalan gontai ke arah ruang kesehatan.
~End of Minho POV~
~Taemin POV~
Menyebalkan. Sedari dulu ada saja orang yang salah mengira diriku ini yeoja. Rasanya aku ingin berteriak keras kepada semua orang dan memberitahukan pada mereka bahwa aku ini namja. 100% namja!
~End of Taemin POV~
Keesokan harinya, pada jam istirahat kedua, para yeoja kelas 1-9, Kelas dimana Lee Taemin berada sedang heboh karena kehadiran seorang flaming charisma sekolah mereka, Choi Minho.
"Annyeong" Minho menghampiri bangku Taemin.
"Annyeong"
"Taemin ah~ Ku dengar kau selalu membawa bekal. Hari ini aku juga bawa bekal. Ayo makan bareng."
"Ah, ne." Taemin dan Minho membuk bekalnya masing-masing dan mulai makan dengan lahap. Tiba-tiba seorang yeoja menghampiri mereka.
"Minho oppa yah, bawa bekal dari rumah ya? Masak sendiri?"
"Aniyo, ini buatan umma."
"Benarkah? Boleh aku minta sedikit? Aku ingin mencicipi masakan calon mertuaku."
"Aniyo, kalau Taemin boleh saja. Kau mau mencobanya Taemin ah?"
"Kenapa hanya Taemin?"
"Karena aku suka dia. Ada masalah?"
"MWO?" Sontak seisi kelas kaget mendengar pernyataan dari Minho. Minho menyukai namja!
"Hyung, apa aku kemarin memukulmu terlalu keras hingga kau seperti ini sekarang?"
"Aniyo, tidak kok. Taemin yah, kau mau jadi pacarku 'kan?"
"Pacaran? Kita ini kan namja, bisa apa kalau kita pacaran?"
"Yah... kita bisa makan bekal bersama, pulang bersama, bergandengan tangan, yah, melakukan hal-hal semacam itu. Lagi pula aku bisa setiap saat menjagamu."
"Ah... aku... Tidak boleh pacaran sama umma. Mianh."
"Ah, yang penting perasaan bukan? Bagaimana perasaanmu padaku. Ah, maksutku, aku ini bagaimana menurutmu?"
"Hyung tampan. Kalau bisa aku ingin seperti hyung."
"Tuh, kan. Kau juga menyukaiku bukan? Lalu kenapa kita tak pacaran saja?"
"Aniyo hyung, aku hanya kagum. Aku tak paham perasaan suka hyung maksutkan itu yang seperti apa. Mianhamnida."
Teeet Teeet Teeet . Bel pertanda dimulainya jam ke-6 berbunyi.
"Aish, aku tak akan menyerah hanya karena sekali penolakan. Kalai perlu akan kutemui umma mu untuk minta persetujuannya."
"Mwo?"
"Nanti sepulang sekolah tunggu aku. Kita pulang bareng." Minho pun pergi meninggalkan kelas Taemin disertai dengan teriakan histeris para yeoja yang masih belum bisa percaya seutuhnya bahwa seorang namja idola sekolah flaming charisma Choi Minho menyukai Lee Taemin yang juga seorang namja.
~Minho POV~
Sepulang sekolah, berjalan beriringan bersama Lee Taemin, namja yang kusukai.
"Yah! Kau tak mau mencoba?"
"Mwo?"
"Pacaran denganku."
"Apa ada untungnya? Kata umma, aku harus serius belajar."
"Yah, refreshing dikit gak ada salahnya bukan?" Taemin tampak berpikir keras.
"Em... kalau begitu jadian juga boleh." Taemin berkata dengan nada datar sambil tetap berjalan lurus.
"Aish, aku tak memaksamu sekarang. Tapi biarkan aku lebih mengenalmu."
"Aish, gak jadi pacaran ya? Padahal aku serius. Ya sudah kalau begitu."
"YAH? Bohong. Kau tadi serius ya? Kalau begitu sekarang saja. Aku mau."
"He he he... ya tak mungkinlah hyung. Aku bisa kena marah umma nanti."
"Aish, kau mulai bohong ya."
"He he..." Kami tertwa bersama dan saling bercada selama perjalanan menuju rumah.
"Tarmin ah." Tiba-tiba seorang namjame manggil Taemin. Kami pun terhenti dari tawa kami.
"Aish...k..ka..kau.." Raut wajah Taemin yang tadinya cerah menjadi pucat. Siapa gerangan namja ini?
~ENd of Minho POV~>
Source by Lian Blingers
http://www.facebook.com/notes/lian-threemin-cassie-royal/ffget-downchap-1/376580004051
Author : Lian1412
Main Cast : 2Min (TaeMinho)
Other Cast : OnKey
~Minho POV~
Kamar mandi sekolah. Tak terlalu kotor, tapi tak bisa disebut bersih. Sekali lagi aku menata seragamku di depan cermin yang ada kemudian beranjak meninggalkan toilet sekolah ini. Aku berkaca sambil mengagumi keteampanan diriku sendiri. Setiap hari terasa menyenangkan. Aku punya banyak teman dan yeoja yang menyukaiku. Yah, itu karena aku adalah seorang faming charisma.
'Brugh' Tiba-tiba saja ada yang menubruk tubuhku. Kim Kibum teman sekelasku. Tanpa minta sempat minta maaf, dia terus langsung pergi memasuki toilet. Sesaat kemudian kudengar suara isak tangis dari dalam toilet. Seorang Kibum yang selalu tertawa riang itu menangis? Aneh.
'Brugh' Lagi-lagi tubuh yang berada tepat di depan toilet sekolah ini ditubruk lagi oleh seorang namja. Kali ini Lee Jinki ketua kelasku. Berbeda dengan yang tadi, ia masih sempat minta maaf padaku meski nampak terburu-buru.
"Ah, mianhamnida." Jinki sedikit menunduk kemudian masuk toilet. Samar-samar kudengar Jinki dan Kibum berbicara mengenai perihal kehamilan. Kehamilan? Maksutnya Kibum hamil? Bagaimana bisa? Tapi mereka itu 'kan seorang namja. Entah bagaimana cerita jealsnya itu bukan urusanku. Aku pun berjalan menuju kelas.
'Brugh' Lagi? Huft. Aku mendengus kesal ingin memarahinya. Bagaimana mungkin seorang Choi Minho yang memiliki tinggi badah 180cm ini sampai kena tubruk 3 kali dalam selang waktu yang tak cukup lama? Namun begitu menyadari bahwa yang telah menubrukku kali ini adalah seorang yeoja manis, aku pun tak jadi marah padanya.
"Aish, mianhamnida."
"Ah... ne. Kau anak baru?"
"Ne
"Yah! Siapa namamu?"
"Lee..."
"Lee?"
"Lee Taemin."
"Ooh... Lee Taemin ah~ Aku suka kau. Maukah kau jadi pacarku?"
"Mwo?"
"Kau mau jadi pacarku?"
"Aniyo, kau sudah gila?" 'Brugh' Taemin memukulkan buku-buku tebal yang ia bawa kearahku.
"Aish, yeoja manis sepertimu tak baik bersikap kasar seperti ini."
"Pabo! Apa kau tak paham dari seragam yang kukenakan ini? Ini seragam untuk namja. Aku ini namja pabo!" 'Brugh' Lagi-lagi taemin memukulkan buku-buku tebal yang dibawanya kepadaku kemudian berlalu.
"Mwo? Namja? Aish, pantas saja seragamnya seperti itu. Kukira dia itu yeoja manis yang punya hobi aneh berpakaian layaknya namja. Huft.." Aku menghela nafas."Tapi sepertinya aku benar-benar jatuh hati padanya. Apakah ada yang rusak pada syaraf otakku karena berulang kali kena tubruk orang? Aish, entahlah, kurasa aku perlu istirahat." Aku pun berjalan gontai ke arah ruang kesehatan.
~End of Minho POV~
~Taemin POV~
Menyebalkan. Sedari dulu ada saja orang yang salah mengira diriku ini yeoja. Rasanya aku ingin berteriak keras kepada semua orang dan memberitahukan pada mereka bahwa aku ini namja. 100% namja!
~End of Taemin POV~
Keesokan harinya, pada jam istirahat kedua, para yeoja kelas 1-9, Kelas dimana Lee Taemin berada sedang heboh karena kehadiran seorang flaming charisma sekolah mereka, Choi Minho.
"Annyeong" Minho menghampiri bangku Taemin.
"Annyeong"
"Taemin ah~ Ku dengar kau selalu membawa bekal. Hari ini aku juga bawa bekal. Ayo makan bareng."
"Ah, ne." Taemin dan Minho membuk bekalnya masing-masing dan mulai makan dengan lahap. Tiba-tiba seorang yeoja menghampiri mereka.
"Minho oppa yah, bawa bekal dari rumah ya? Masak sendiri?"
"Aniyo, ini buatan umma."
"Benarkah? Boleh aku minta sedikit? Aku ingin mencicipi masakan calon mertuaku."
"Aniyo, kalau Taemin boleh saja. Kau mau mencobanya Taemin ah?"
"Kenapa hanya Taemin?"
"Karena aku suka dia. Ada masalah?"
"MWO?" Sontak seisi kelas kaget mendengar pernyataan dari Minho. Minho menyukai namja!
"Hyung, apa aku kemarin memukulmu terlalu keras hingga kau seperti ini sekarang?"
"Aniyo, tidak kok. Taemin yah, kau mau jadi pacarku 'kan?"
"Pacaran? Kita ini kan namja, bisa apa kalau kita pacaran?"
"Yah... kita bisa makan bekal bersama, pulang bersama, bergandengan tangan, yah, melakukan hal-hal semacam itu. Lagi pula aku bisa setiap saat menjagamu."
"Ah... aku... Tidak boleh pacaran sama umma. Mianh."
"Ah, yang penting perasaan bukan? Bagaimana perasaanmu padaku. Ah, maksutku, aku ini bagaimana menurutmu?"
"Hyung tampan. Kalau bisa aku ingin seperti hyung."
"Tuh, kan. Kau juga menyukaiku bukan? Lalu kenapa kita tak pacaran saja?"
"Aniyo hyung, aku hanya kagum. Aku tak paham perasaan suka hyung maksutkan itu yang seperti apa. Mianhamnida."
Teeet Teeet Teeet . Bel pertanda dimulainya jam ke-6 berbunyi.
"Aish, aku tak akan menyerah hanya karena sekali penolakan. Kalai perlu akan kutemui umma mu untuk minta persetujuannya."
"Mwo?"
"Nanti sepulang sekolah tunggu aku. Kita pulang bareng." Minho pun pergi meninggalkan kelas Taemin disertai dengan teriakan histeris para yeoja yang masih belum bisa percaya seutuhnya bahwa seorang namja idola sekolah flaming charisma Choi Minho menyukai Lee Taemin yang juga seorang namja.
~Minho POV~
Sepulang sekolah, berjalan beriringan bersama Lee Taemin, namja yang kusukai.
"Yah! Kau tak mau mencoba?"
"Mwo?"
"Pacaran denganku."
"Apa ada untungnya? Kata umma, aku harus serius belajar."
"Yah, refreshing dikit gak ada salahnya bukan?" Taemin tampak berpikir keras.
"Em... kalau begitu jadian juga boleh." Taemin berkata dengan nada datar sambil tetap berjalan lurus.
"Aish, aku tak memaksamu sekarang. Tapi biarkan aku lebih mengenalmu."
"Aish, gak jadi pacaran ya? Padahal aku serius. Ya sudah kalau begitu."
"YAH? Bohong. Kau tadi serius ya? Kalau begitu sekarang saja. Aku mau."
"He he he... ya tak mungkinlah hyung. Aku bisa kena marah umma nanti."
"Aish, kau mulai bohong ya."
"He he..." Kami tertwa bersama dan saling bercada selama perjalanan menuju rumah.
"Tarmin ah." Tiba-tiba seorang namjame manggil Taemin. Kami pun terhenti dari tawa kami.
"Aish...k..ka..kau.." Raut wajah Taemin yang tadinya cerah menjadi pucat. Siapa gerangan namja ini?
~ENd of Minho POV~>
Source by Lian Blingers
http://www.facebook.com/notes/lian-threemin-cassie-royal/ffget-downchap-1/376580004051
FF [ AT LEAST I STILL HAVE YOU]
Title : At Least I Still Have You
Author : Lian1412
Main Cast : Hanchul
Other Cast : Author as Lee Sora
'Ting Tong...Ting Tong' disuatu pagi, bel pintu apartemen Super Junior berbunyi. Dengan langkah malas karna baru bangun tidur, Heechul membuka pintu itu.
"Yah, kenapa semuanya bisa tetap tidur tenang sementara bell terus berbunyi sih?"
Terkejut, haru, rindu bercampur dalam ekspresi wajahnya saat melihat tamu yang datang itu. Ia pun meloncat dalam pelukan namja itu.
"Hankyung ah!!! Kau kembali juga rupanya. Aku merindukanmu pabo!" Namja yang dipanggil Hankyung itu melepaskan pelukan Heechul.
"Chulie ah..." panggilnya dengan nada mesra tapi sendu. "Mianhae... aku hanya mengambil beberapa barang-barangku hari ini." Hankyung menunduk untuk menyembunyikan rasa sedihnya. Ekspresi kecewa tersirat jelas di wajah Heechul.
"Waeyo? Kau benar-benar akan pergi dari sini? Apa kau tak mencintaiku lagi?"
"Chulie ah... mianhae. Aku tak bisa tetap tinggal disini." kata Hankyung pelan. Heechul melihat ke arah lantai. Dari bibirnya yang sedikit manyun terlihat jelas bahwa ia merasa sangat tidak puas dengan keputusan Hankyung.
"Terserah kau sajalah pabo! Kau memang sudah tak memerlukan aku lagi jadi kau pergi. Argh... Ambil saja barang-barangmu sana dan jangan kembali lagi. Aku pergi dulu." Heechul melankahkan kakinya keluar dari apartemen setelah menyambar jaket milik Leeteuk yang tersampir disembarang tempat.
"Chulie..." Hankyung hanya menatap sendu kepergian Heechul kemudian masuk ke dalam kamar untuk mengambil beberapa barangnya yang dianggap perlu kemudian keluar dari apartemen untuk mencari Heechul, kekasih hatinya.
~Heechul POV~
Langkah kakiku terhenti begitu saja sesampainya di taman dekat stasiun. Aku hempaskan badanku di salah satu bangku yang ada di taman itu sembari mendesah. Kukira pagi ini adalah pagi yang terindah karena aku bisa bertemu dengannya kembali. Tapi tak kusangka dia benar-benar memutuskan untuk pergi meninggalkan nama Super Junior. Seakan langit yang cerah berubah menjadi kelam. Seperti suasana hatiku ini. Kenapa kau tak segera mengejarku saat aku pergi tadi? Datanglah dan cerahkan kembali langit itu. Mungkin hanya dirimulah yang paling berharga dalam hidupku.
~End of Heechul POV~
"Chulie ah... akhirnya aku menemukanmu. hah.. hh..." dengan napas yang tersengal Hankyung berlari ke arah Heechul yang masih duduk termenung dan turut menghempaskan badannya disisi kekasihnya itu. "Chulie.. Untung saja aku dapat menemukanmu. Ada yang ingin kusampaikan padamu."
"Mwo?"
"Aku juga merindukanmu. Saranghae..."
"Jadi kau tak akan pergi bukan?"
"Entahlah."
"Yah! Kalau kau rindu padaku, kalau kau mencintaiku, lalu kenapa kau harus pergi?"
"Tapi aku tak sanggup."
"Yah.. Hankyung ah.. aku janji aku tak akan selingkuh lagi dengan Si Won atau siapa pun itu. Aku tak akan mencium siapa pun lagi selain dirimu. Jadi kau harus tetap tinggal disisiku. Mengerti!"
"Chulie ah.. mengertilah kondisiku. Aku juga merasa berat..."
"Tapi masih ada aku disini bukan? Kita bisa hadapi semuanya bersama seperti biasanya bukan?"
Hening... Raut kesedihan jelas terpancar dari wajah Hankyung dan Heechul. Heechul berusaha untuk mengerti keadaan Hankyung, tapi egonya selalu saja menolak keputusan Hankyung. Padahal Heechullah yang selama ini paling tahu bahwa Hankyung telah melewati banyak hal dan persoalan yang begitu berat.
"Chullie.." Hankyung menatap lembut namja di depanya itu kemudian mendekatkan dirinya hingga membuat namja tersebut jatuh kembali dalam pelukannya. Hankyung pun mendekatkan bibirnya ke telinga Heechul dan berbisik. "Mianh... Saranghamnida." Heechul hanya terdiam berusaha menahan air matanya yang hendak jatuh karna tak sanggup lagi menahan keputusan Hankyung untuk pergi. Hankyung melepas pelukannya dan mengecup lembut kening Heechul yang tertutup poni kemudian melangkah pergi dari tempat itu, meninggalkan Heechul yang mulai mengalirkan air matanya.
~Heechul POV~
Ah... Aku sudah tak kuasa lagi menahan air mata ini, jadi kubiarkan saja mengalir mengiringi kepergiannya. Kulihat tubuh Hankyung mulai menjauh. Punggungnya nampak lebih kecil dari biasanya. Seberat itukah beban yang harus kau tanggung? Tak bisakah kau membaginya denganku? Makin lama tubuhnya makin tak terlihat lagi karna ia yang semakin menjauh, dan karna air mata yang mulai memenuhi mataku dan membuat pandangan disekitar nampak kabur.
~End of Heechul POV~
Langkah kaki Heechul makin cepat menuju salon langganannya. Setibanya disana, ia langsung merebahkan dirinya di kursi depan kaca yang masih kosong.
"Ah, Heechul oppa. Selamat datang, kali ini rambut oppa mau dibikin seperti apa oppa?" Sambut Lee Sora salah seorang pegawai salon tersebut
"Keriting." jawab Heechul singkat.
"Mwo?" Sora masih merasa ragu dengan jawaban Heechul.
"Ubah rambutku jadi keriting."
"Oppa serius?"
"Ne."
"Tapi oppa, kalau rambut oppa dikeriting oppa nanti jadi terlihat sedikit... ah. mianh.. jelek gitu. Lagi pula oppa akan nampak lebih tua kalau dikeriting."
"Biar saja. pokoknya lakukan saja apa kataku. Aku bosan dengan model rambut lurus terus. Aku mau ganti suasana. Titik."
"N..ne." Sora pun melakukan apa yang diperintahkan Heechul.
"Hah... akhirnya jadi juga rambut ini keriting." Heechul menghela napas lega kemudian merogoh hape di sakunya dan menelpon Hankyung.
"Yoboseyo, Chulie ah.. Waeyo?" sapa suara di sebrang.
"Hankyung ah... sore ini, bisakah kau datang ke taman itu lagi?"
"Hm.."
"Ada hal penting yang ingin aku sampaikan."
"Ne."
"Ku tunggu jam 5sore di bangku tadi ya."
"Ne.
Tut.. sambungan terputus. Heechul melangkahkan kakinya kembali ke apartemen. Berusaha menata hati dan memantapkan pikirannya.
---------------------------------------------------------------
Langit sore yang kemerahan menemani Heechul yang datang lebih awal.
"Siapa kau?" Hankyung yang datang beberapa saat kemudian tak mampu mengenali Heechul yang telah merubah rambut dan penampilannya.
"Kau lupa padaku?"
"Chulie? Tapi kenapa rambutmu?"
"Tak masalah bukan. Aku hanya ingin ganti suasana saja karna aku ingin membereskan perkara hatiku."
"Maksutmu?"
"Hankyung ah, aku sudah bilang kalau aku ingin menyampaikan sesuatu bukan?"
"N..ne..Mwo?" tanya Hankyung. Heechul melihat jam tangannya menunjukkan arah 17.03 kemudian mendekatkan wajahnya dengan wajah Hankyung hingga bibir mereka menyatu. Mereka berciuman. Awalnya Hankyung cukup kaget dengan hal yang begitu tiba-tiba ini, namun sesaat kemudian ia pun turut menikmati ciuman itu. Yah, memang inilah gaya Heechul. Begitu spontan dan tiba-tiba. Setelah beberapa saat larut dalam ciuman Heechul, Hankyung melepaskan diri dari ciuman tersebut untuk mengambil napas. Heechul langsung melihat kembali ke arah jamnya.
"5 menit 28 detik. Hem.. tak buruk juga."
"Hm... kau menghitungnya?" Hankyung agak kaget melihat tingkah Heechul yang tengah menghitung durasi ciuman mereka.
"Ne. tapi ini lebih buruk dari saat terakhir kita ciuman. Bukannya beberapa saat yang lalu kita mampu sampai 8 menit?"
"Argh.. Culie ah.. kau masih saja memperhitungkan hal-hak kecil seperti ini. Yang penting aku masih cinta padamu bukan?"
"Yah! Sudah kuduga akau akan bicara seperti itu. Katakanlah dengan lebih baik Hankyung ah..." Hankyung tersenyum kecil melihat kelakuan manja Heechul sambil meletakkan kedua lengannya di pundak Heechul.
"Saranghae Chulie ah..." Heechul nampak tersenyum puas dan memeluk erat tubuh Hankyung.
"Na do saranghae."
Untuk beberapa saat suasana berubah menjadi hening.
"Hankyung ah..."
"Hm?"
"Apa kau benar-benar cinta padaku?"
"Ne. Saranghamnida Chulie ah..."
"Hankyung ah..."
"Hm?"
"Na do saranghae."
"Ne. Aku tahu itu."
"Hankyung, kau tahu kenapa aku memanggilmu kemari?"
"Aniyo. Waeyo?"
"Aku ingin bertemu denganmu dan minta maaf atas sikapku tadi pagi. Aku belum bisa berpikir dengan jernih. Miah..."
"Tak apa. Aku sudah memaafkanmu. Aku sadar, semua ini pasti terasa berat bagimu."
"Ne. Berat juga untukmu bukan?"
"Ne."
"Hankyung ah..."
"Hm?"
"Apapun keputusanmu aku akan menerimanya dengan lapang hati. Aku tahu benar seberapa berat bebanmu. Aku akan tetap mendukungmu. Ingatlah, apapun yag terjadi, meski seluruh isi dunia ini tak memihakmu, aku akan tetap selalu disisimu."
"Gomawo."
"Hankyung ah, aku tak bisa begitu saja meninggalkan para ELF dan meninggalkan nama Super Junior yang telah membesarkan namaku. Jika kau melihat Super Junior sedang tampil di panggung, maka kau pasti akan tetap melihat Heechul Super Junior. Jadi, kau juga harus tetap mendukung keberadaanku di Super Junior ya."
"Ne. Tentu saja. Aku mencintaimu Kim Heechul, aku juga mencintaimu Heechul Super Junior. Bekerjalah lebih baik dan tetaplah penuh semangat seperti biasanya meski jika aku tak ada lagi nantinya." Dengan berat Heechul melepas pelukan Hankyung kemudian tersenyum cerah padanya.
"Ne. Tentu saja." Hankyung pun turut tersenyum lembut.
"Gomawo Chulieah... Gomawo sudah mengerti diriku ini. Aku akan berusaha sekuat mungkin agar aku tak mengecewakan hatimu." Hankyung perlahan mengecup kening Heechul kemudian kembali menarik Heechul dalam pelukannya,.
Hari mulai gelap, namun hati mereka tak lagi gelap karna mereka terus berusaha saling mengerti satu sama lainnya meski dalam keadaan seberat apa pun.
-END-
Source by Lian Blingers
http://www.facebook.com/profile.php?id=1233381931&v=app_2347471856&ref=ts#!/notes.php?id=1233381931&start=10&hash=141e8a93a92494738a264872ba119863
Author : Lian1412
Main Cast : Hanchul
Other Cast : Author as Lee Sora
'Ting Tong...Ting Tong' disuatu pagi, bel pintu apartemen Super Junior berbunyi. Dengan langkah malas karna baru bangun tidur, Heechul membuka pintu itu.
"Yah, kenapa semuanya bisa tetap tidur tenang sementara bell terus berbunyi sih?"
Terkejut, haru, rindu bercampur dalam ekspresi wajahnya saat melihat tamu yang datang itu. Ia pun meloncat dalam pelukan namja itu.
"Hankyung ah!!! Kau kembali juga rupanya. Aku merindukanmu pabo!" Namja yang dipanggil Hankyung itu melepaskan pelukan Heechul.
"Chulie ah..." panggilnya dengan nada mesra tapi sendu. "Mianhae... aku hanya mengambil beberapa barang-barangku hari ini." Hankyung menunduk untuk menyembunyikan rasa sedihnya. Ekspresi kecewa tersirat jelas di wajah Heechul.
"Waeyo? Kau benar-benar akan pergi dari sini? Apa kau tak mencintaiku lagi?"
"Chulie ah... mianhae. Aku tak bisa tetap tinggal disini." kata Hankyung pelan. Heechul melihat ke arah lantai. Dari bibirnya yang sedikit manyun terlihat jelas bahwa ia merasa sangat tidak puas dengan keputusan Hankyung.
"Terserah kau sajalah pabo! Kau memang sudah tak memerlukan aku lagi jadi kau pergi. Argh... Ambil saja barang-barangmu sana dan jangan kembali lagi. Aku pergi dulu." Heechul melankahkan kakinya keluar dari apartemen setelah menyambar jaket milik Leeteuk yang tersampir disembarang tempat.
"Chulie..." Hankyung hanya menatap sendu kepergian Heechul kemudian masuk ke dalam kamar untuk mengambil beberapa barangnya yang dianggap perlu kemudian keluar dari apartemen untuk mencari Heechul, kekasih hatinya.
~Heechul POV~
Langkah kakiku terhenti begitu saja sesampainya di taman dekat stasiun. Aku hempaskan badanku di salah satu bangku yang ada di taman itu sembari mendesah. Kukira pagi ini adalah pagi yang terindah karena aku bisa bertemu dengannya kembali. Tapi tak kusangka dia benar-benar memutuskan untuk pergi meninggalkan nama Super Junior. Seakan langit yang cerah berubah menjadi kelam. Seperti suasana hatiku ini. Kenapa kau tak segera mengejarku saat aku pergi tadi? Datanglah dan cerahkan kembali langit itu. Mungkin hanya dirimulah yang paling berharga dalam hidupku.
~End of Heechul POV~
"Chulie ah... akhirnya aku menemukanmu. hah.. hh..." dengan napas yang tersengal Hankyung berlari ke arah Heechul yang masih duduk termenung dan turut menghempaskan badannya disisi kekasihnya itu. "Chulie.. Untung saja aku dapat menemukanmu. Ada yang ingin kusampaikan padamu."
"Mwo?"
"Aku juga merindukanmu. Saranghae..."
"Jadi kau tak akan pergi bukan?"
"Entahlah."
"Yah! Kalau kau rindu padaku, kalau kau mencintaiku, lalu kenapa kau harus pergi?"
"Tapi aku tak sanggup."
"Yah.. Hankyung ah.. aku janji aku tak akan selingkuh lagi dengan Si Won atau siapa pun itu. Aku tak akan mencium siapa pun lagi selain dirimu. Jadi kau harus tetap tinggal disisiku. Mengerti!"
"Chulie ah.. mengertilah kondisiku. Aku juga merasa berat..."
"Tapi masih ada aku disini bukan? Kita bisa hadapi semuanya bersama seperti biasanya bukan?"
Hening... Raut kesedihan jelas terpancar dari wajah Hankyung dan Heechul. Heechul berusaha untuk mengerti keadaan Hankyung, tapi egonya selalu saja menolak keputusan Hankyung. Padahal Heechullah yang selama ini paling tahu bahwa Hankyung telah melewati banyak hal dan persoalan yang begitu berat.
"Chullie.." Hankyung menatap lembut namja di depanya itu kemudian mendekatkan dirinya hingga membuat namja tersebut jatuh kembali dalam pelukannya. Hankyung pun mendekatkan bibirnya ke telinga Heechul dan berbisik. "Mianh... Saranghamnida." Heechul hanya terdiam berusaha menahan air matanya yang hendak jatuh karna tak sanggup lagi menahan keputusan Hankyung untuk pergi. Hankyung melepas pelukannya dan mengecup lembut kening Heechul yang tertutup poni kemudian melangkah pergi dari tempat itu, meninggalkan Heechul yang mulai mengalirkan air matanya.
~Heechul POV~
Ah... Aku sudah tak kuasa lagi menahan air mata ini, jadi kubiarkan saja mengalir mengiringi kepergiannya. Kulihat tubuh Hankyung mulai menjauh. Punggungnya nampak lebih kecil dari biasanya. Seberat itukah beban yang harus kau tanggung? Tak bisakah kau membaginya denganku? Makin lama tubuhnya makin tak terlihat lagi karna ia yang semakin menjauh, dan karna air mata yang mulai memenuhi mataku dan membuat pandangan disekitar nampak kabur.
~End of Heechul POV~
Langkah kaki Heechul makin cepat menuju salon langganannya. Setibanya disana, ia langsung merebahkan dirinya di kursi depan kaca yang masih kosong.
"Ah, Heechul oppa. Selamat datang, kali ini rambut oppa mau dibikin seperti apa oppa?" Sambut Lee Sora salah seorang pegawai salon tersebut
"Keriting." jawab Heechul singkat.
"Mwo?" Sora masih merasa ragu dengan jawaban Heechul.
"Ubah rambutku jadi keriting."
"Oppa serius?"
"Ne."
"Tapi oppa, kalau rambut oppa dikeriting oppa nanti jadi terlihat sedikit... ah. mianh.. jelek gitu. Lagi pula oppa akan nampak lebih tua kalau dikeriting."
"Biar saja. pokoknya lakukan saja apa kataku. Aku bosan dengan model rambut lurus terus. Aku mau ganti suasana. Titik."
"N..ne." Sora pun melakukan apa yang diperintahkan Heechul.
"Hah... akhirnya jadi juga rambut ini keriting." Heechul menghela napas lega kemudian merogoh hape di sakunya dan menelpon Hankyung.
"Yoboseyo, Chulie ah.. Waeyo?" sapa suara di sebrang.
"Hankyung ah... sore ini, bisakah kau datang ke taman itu lagi?"
"Hm.."
"Ada hal penting yang ingin aku sampaikan."
"Ne."
"Ku tunggu jam 5sore di bangku tadi ya."
"Ne.
Tut.. sambungan terputus. Heechul melangkahkan kakinya kembali ke apartemen. Berusaha menata hati dan memantapkan pikirannya.
---------------------------------------------------------------
Langit sore yang kemerahan menemani Heechul yang datang lebih awal.
"Siapa kau?" Hankyung yang datang beberapa saat kemudian tak mampu mengenali Heechul yang telah merubah rambut dan penampilannya.
"Kau lupa padaku?"
"Chulie? Tapi kenapa rambutmu?"
"Tak masalah bukan. Aku hanya ingin ganti suasana saja karna aku ingin membereskan perkara hatiku."
"Maksutmu?"
"Hankyung ah, aku sudah bilang kalau aku ingin menyampaikan sesuatu bukan?"
"N..ne..Mwo?" tanya Hankyung. Heechul melihat jam tangannya menunjukkan arah 17.03 kemudian mendekatkan wajahnya dengan wajah Hankyung hingga bibir mereka menyatu. Mereka berciuman. Awalnya Hankyung cukup kaget dengan hal yang begitu tiba-tiba ini, namun sesaat kemudian ia pun turut menikmati ciuman itu. Yah, memang inilah gaya Heechul. Begitu spontan dan tiba-tiba. Setelah beberapa saat larut dalam ciuman Heechul, Hankyung melepaskan diri dari ciuman tersebut untuk mengambil napas. Heechul langsung melihat kembali ke arah jamnya.
"5 menit 28 detik. Hem.. tak buruk juga."
"Hm... kau menghitungnya?" Hankyung agak kaget melihat tingkah Heechul yang tengah menghitung durasi ciuman mereka.
"Ne. tapi ini lebih buruk dari saat terakhir kita ciuman. Bukannya beberapa saat yang lalu kita mampu sampai 8 menit?"
"Argh.. Culie ah.. kau masih saja memperhitungkan hal-hak kecil seperti ini. Yang penting aku masih cinta padamu bukan?"
"Yah! Sudah kuduga akau akan bicara seperti itu. Katakanlah dengan lebih baik Hankyung ah..." Hankyung tersenyum kecil melihat kelakuan manja Heechul sambil meletakkan kedua lengannya di pundak Heechul.
"Saranghae Chulie ah..." Heechul nampak tersenyum puas dan memeluk erat tubuh Hankyung.
"Na do saranghae."
Untuk beberapa saat suasana berubah menjadi hening.
"Hankyung ah..."
"Hm?"
"Apa kau benar-benar cinta padaku?"
"Ne. Saranghamnida Chulie ah..."
"Hankyung ah..."
"Hm?"
"Na do saranghae."
"Ne. Aku tahu itu."
"Hankyung, kau tahu kenapa aku memanggilmu kemari?"
"Aniyo. Waeyo?"
"Aku ingin bertemu denganmu dan minta maaf atas sikapku tadi pagi. Aku belum bisa berpikir dengan jernih. Miah..."
"Tak apa. Aku sudah memaafkanmu. Aku sadar, semua ini pasti terasa berat bagimu."
"Ne. Berat juga untukmu bukan?"
"Ne."
"Hankyung ah..."
"Hm?"
"Apapun keputusanmu aku akan menerimanya dengan lapang hati. Aku tahu benar seberapa berat bebanmu. Aku akan tetap mendukungmu. Ingatlah, apapun yag terjadi, meski seluruh isi dunia ini tak memihakmu, aku akan tetap selalu disisimu."
"Gomawo."
"Hankyung ah, aku tak bisa begitu saja meninggalkan para ELF dan meninggalkan nama Super Junior yang telah membesarkan namaku. Jika kau melihat Super Junior sedang tampil di panggung, maka kau pasti akan tetap melihat Heechul Super Junior. Jadi, kau juga harus tetap mendukung keberadaanku di Super Junior ya."
"Ne. Tentu saja. Aku mencintaimu Kim Heechul, aku juga mencintaimu Heechul Super Junior. Bekerjalah lebih baik dan tetaplah penuh semangat seperti biasanya meski jika aku tak ada lagi nantinya." Dengan berat Heechul melepas pelukan Hankyung kemudian tersenyum cerah padanya.
"Ne. Tentu saja." Hankyung pun turut tersenyum lembut.
"Gomawo Chulieah... Gomawo sudah mengerti diriku ini. Aku akan berusaha sekuat mungkin agar aku tak mengecewakan hatimu." Hankyung perlahan mengecup kening Heechul kemudian kembali menarik Heechul dalam pelukannya,.
Hari mulai gelap, namun hati mereka tak lagi gelap karna mereka terus berusaha saling mengerti satu sama lainnya meski dalam keadaan seberat apa pun.
-END-
Source by Lian Blingers
http://www.facebook.com/profile.php?id=1233381931&v=app_2347471856&ref=ts#!/notes.php?id=1233381931&start=10&hash=141e8a93a92494738a264872ba119863
FF [LOVE PAIN CHAP 1]
Title : Love Pain Chap 1
Author : Lian1412
Length : Oneshot
Cast : SHINee Minho, Kibum(Key), Taemin, Jinki (Onew)
All of this fic is Minho POV
Hari ini hari pertama aku belajar di sekolah ini. Jujur saja, sedari tadi berada di ruang kelas baruku ini aku merasa tidak nyaman dengan tatapan-tatapan mata yang penuh nafsu tak jelas itu.
“Yah, minho ah, baru saja kau datang semua mata yeoja di kelas ini sudah memperhatikanmu, padahal kau datang dengan muka yang serem seperti ini. Bagaimana jika nanti seluruh sekolah tahu soal kedatanganmu ini. Aku tak bisa membayangkannya. Terserah kau mau jadi terkenal atau apa, tapi aku yakin kau tak akan mampu merebut julukan diva dariku.” Kim Kibum,, teman sebangkuku yang baru dia terlihat begitu cerewet dan fashionable. Aku melihat ke arah seluruh penujuru kelas. Yep. Benar sekali perkataan Kibum mereka memandangiku dan aku risih karenanya. Saat ini aku merindukan lirikannya yang malu-malu, wajahnya yang memerah saat kita bertemu pandang, Andai saja kau ada disini denganku.
+++++++++++++++++++
Launch time… entah aku harus bersyukur atau berduka saat ini. Aku berjalan berdampingan mengelilingi sekolah baruku dengan teman sebangku yang cukup cerewet. Dia cerewet dalam segala hal, namun berkat dia, aku terbebas dari kerumunan yeoja yang tadi menyerbuku.
“Minho ah, Kau hanya berdiam diri saja dari tadi. Ceritakan padaku tentang dirimu.” Tiba-tiba Kibum bertanya padaku saat kami berhenti di sebuah tanah lapang yang luas dan membuka bekal masing-masing.
“Tentangku?”
“Yeah, apa saja. Misalnya kenapa kau pindah ke sekolah ini?”
”Karena appa pindah tugas.”
”Kalau hobimu atau cita-citamu?”
“Aku suka olahraga, aku ingin jadi pemain sepak bola.”
“Itu saja? Lihatlah dirimu, kau nampak begitu membosankan. Tak adakah dalam dirimu yang menarik? Err… misalnya sekolahmu yang dulu mungkin. Atau adakah orang yang spesial mungkin.” Aku terdiam sejenak dan menghela nafas panjang.
“Sekolahku yang dulu, sekolah yang biasa saja. Sama seperti sekolah ini, banyak yeoja yang tatapannya memuakkan, bahkan para yeoja disana cenderung mengerikan. Kalau orang yang special… ada satu dan selamanya akan tetap satu itu.”
“Mwo? Benarkah? Ceritakan padaku!”
Seperti terhipnotis dalam aliran sungai, aku berbagi cerita dengan Kibum, teman baruku. Meski dia cerewet, dia orang baik dan aku pastikan ia tak akan membocorkan segalanya. Aih, aku jadi teringat kembali padanya saat-saat kami duduk di tepi sungai kecil sore hari dan berbagi cerita, mengikrarkan janji yang tak dapat kupenuhi. Aku makin merindukannya, aku bisa gila hanya karena memikirkannya.
++++++++++++++++++++++++++
‘Brzzzzzz!!!’ (tau dah author gak ngerti suara ujan gimana. Pokoknya gini.)
Hujan turun dengan lebatnya saat pulang sekolah. Aku dan Kibum memutuskan untuk menunggu hujan reda meski entah sampai kapan. Kami duduk di koridor kelas sambil memandangi air hujan yang berjatuhan. Meski aku menunggu sambil bercanda dan bertukar cerita dengan Kibum, ingatanku tetap tertuju padanya… My Taeminnie…
++Flash Back++
Senja hari sepulang sekolah di tepi sungai kecil. Hanya ada aku dan dia saat ini. Semoga selalu seperti ini.
“Hyung lihat lihat!” dengan nada manja yang tidak dibuat-buat Taemin merangkul lenganku dan menarikku menuju sungai kecil itu. “Hyung, lucu ya… ikannya kecil-kecil dan warna warni.” Aku menatapnya lembut dengan senyum penuh ketulusan.
“Kau mau satu?” mendengar perkataanku ia langsung menoleh kepadaku dengan bola mata lebar dan jernihnya.
“Hyung bisa mengambilkannya untukku? Aku mau dua!”
“Dua?”
“Ne. kalau satu kasihan hyung harus sendirian.” Taemin mengangguk mantap membuatku semakin gemas akannya.
“Boleh. Kau carilah wadahnya biar aku turun ke dalam sungai untuk mendapatkannya.”
“Yep.” Si mungil Taemin mengangguk cepat dan berlari menjauh mencari wadah di rumahnya yang terletak tak begitu jauh dari sini. Mendapatkan ikan dengan tangan hampa merupakan hal yang mustahil sekali bukan? Aku hanya duduk termenung memandangi ikan-ikan itu. Aku segera bangkit dari dudukku dan berlari menuju jalan kecil saat aku melihat seorang penjual ikan lewat. Aku membeli 3 ekor ikan darinya dan segera kembali ke tepi sungai.
“Hyung! Aku sudah bawa mangkuk besar nih!” tak lama sesampainya di tepi sungai, aku melihat Taemin belari menuju arahku dengan tawa riangnya. “Ini hyung!” dengan nafas yang terengah-engah.
“Kau tak perlu sampai berlari-lari seperti ini Taemin ah… kau bisa saja jatuh jika tak hati-hati tadi.” Aku menyambut mangkok yang disodorkannya dengan senyuman terbaikku.
“Aku hanya terlalu semangat hyung. Yah hyung sudah dapatkan ikannya?”
”Hem.. ne. Ini.” Aku memperlihatkan 3 ekor ikan yang baru saja kubeli kemudian meletakkannya dari plastik ke mangkuk yang dibawa Taemin tadi.
”Cepat sekali hyung. Hyung hebat.” Taemin memeluk tubuhku erat-erat. Dalam hati aku tertawa geli melihat kepolosan si kecil yang dengan begitu saja percaya padaku. Harusnya dia curiga karena bajuku sama sekali tak basah. Aku melepas perlahan pelukanny dan menyodorkan mangkuk yang sudah berisikan ikan itu pada si kecilku yang manis.
”Tiga?” melihat jumlah ikan itu dia menatapku penuh tanda tanya. ”Aku kan hanya minta dua hyung...”
”Bonus. Kalau hanya dua, jika suatu saat nanti yang satu pergi yang satunya akan kesepian. Beda ceritanya jika bertiga bukan?”
”Ah.. ne. Tapi aku hanya ingin berdua dengan hyung saja...” dia meatapku manja. Benar-benar menggoda. Aku mengelus rambutnya dan mendekatkan dirinya ke dadaku.
”Aku tak akan kemana-mana Taemin ah” lagi-lagi Taemin menunjukan mukanya yang mirip udang rebus. Merah. Wajah yang semakin membuatku mencintainya. Mencintai kepolosannya, mencintai keluguannya, mencintai dirinya sekarang dan selamanya.
”Brzzzzz!!! Hujan turun secara deras dengan tiba-tiba. Taemin dengan sigapnya menutup mangkuk yang berisi ikan-ikan itu dengan tasnya dan menaruhnya ke bawah pohon dan menarikku untuk lebih mendekati sungai. Ia pun mulai bermain air.
”Taemin ah! Apa-apaan kau ini! Ayo segera berteduh atau kau akan sakit nantinya?”
”Tak apa hyung. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu sebagai tanda terimakasihku.” Taemin justru tersenyum lebar dan mulai menggerakkan badannya di bawah air hujan. Dia menari dalam hujan. Begitu cantik di mataku. Entah mengapa wajah mungil yang tanpa dosa itu nampak begitu menggairahkan dalam setiap gerakkannya di hari hujan ini. Andai saja dia sudah dewasa dan bukan namja kecil lagi, entah apa yang akan aku lakukan padanya saat ini. Bebrapa saat kemudian hujan berhenti, saat itu pula ia mengakhiri gerakannya itu dan berlari mendekat padaku.
”Bagaimana hyung? Bagus tidak?”
”Cantik”
”Hm?”
”Lihatlah pelanginya cantik.” aku menarik lengan Taemin dan memperlihatkan sebuah pelangi yang nampak di langit. Tepat di atas ujung sungai sore ini
”Ne. Cantik. Ah hyung... kau belum memberiku komentar tentang tarianku tadi.” Taemin berkata dengan nada manjanya.
”Komentarku?” Aku menarik lengannya dan mengambil mangkuk berisi ikan tadi beserta tas sekolahnya. ”Sekarang kita pulang. Aku tak mau dimarahi kakakmu karena membawamu pulang malam.”
”Ahhhhh.. hyuuuunggg..” dia merengek menolak ajakkanku, namun dia tetap mengikuti langkah kakiku menuju rumahnya.
++ End of Flash Back++
”Minho ah, kau kenapa?” Kibum mengguncang tubuhku perlahan.
“Hm? Aku menoleh bingung ke arahnya.”
“Kenapa kau menangis?”
“Mwo?” aku meraba pipiku dan kudapati cairan bening itu sedang mengalir dengan derasnya.
“Kau tak apa?”
“Aniyo aku.. hanya sedikit teringat cerita masa lalu.”
“Tentang si kecil yang kau ceritakan tadi siang kah?”
“Err.. yah kurasa begitu.”
“Kau merindukannya?”
“Well.. kau pasti tau jawabannya. Hujan sudah reda. Ayo pulang.” Aku beranjak dari dudukku dan berjalan pulang beriringan dengan Kibum. Hal ini… membuatku semakin ingat akan Taemin. Saat ini, tak ada lagi tangan mungil yang kugenggam selama perjalanan pulang. Saat ini, tak ada lagi wajah polos dengan tawanya yang renyah disisiku.
++++++++++++++++++++++++++
“Yah! Minho ah.. kau sudah kerjakan PR Bahasa Inggris kemarin?” seminggu sejak kepindahanku, aku semakin akrab dengan teman sebangkuku. Meski cerewet, itu semua demi kebaikkanku. Aku paham betul itu.
“Hm? Memangnya kemarin ada PR?”
“Aish, kau ini selama pelajaran hanya bisa bengong saja ya? Ini pekerjaanku! Cepat salin sebelum kelas Mrs. Sora dimulai. Dia cukup disiplin untuk segala hal. Lagi pula aku ini cukup unggul dalam bahasa Inggris. Kau tak perlu khawatir ada pekerjaan yang salah.”
“Haha.. thank’s bro.” Aku menyambut tawaran Kibum dengan senyuman hangat sambil menyibakkan rambutku yang mulai memanjang. Seisi kelas terdiam. Mereka menatapku penuh ketakjuban. ”Yah Kibum ah, ada apa dengan mereka?”
”Yah, mungkin mereka takjub karena baru kali ini melihatmu tersenyum. Kalau aku sih sama sekali tidak. Kamu sudah cukup banyak tersenyum dengan senyuman yang lebih manis dari ini saat menceritakan soal si mungil. Yah, aku penasaran, sehebat apa si mungil yang mampu membuatmu seperti itu.” Kibum berbisik padaku dengan nada khasnya. Membuat telingaku geli dan merasa aneh. Aku pun tertawa kecil dibuatnya.
”Kibum ah, lain waktu kau harus menemui minnie. Kau pasti akan setuju dengan pendapatku bahwa dia cantik. Dia cantik dan tak ada yang mampu menandinginya. Apa pun itu.”
”Termasuk aku sang diva ini?”
”Haha.. itu lain cerita. Sudahlah aku mau salin tugas ini.”
”Ne ne ne... aku cari makan dulu boy...” dengan nada anehnya Kibum pergi keluar kelas meninggalkanku dan belasan pasang mata yang masih terbengong-bengong menatapku.
Ku akui Kibum memang pantas mendapat julukan diva. Dia tahu bagaimana cara berpenampilan, dia terampil dalam pekerjaan rumah tangga, dia pandai, dia tahu betul bagaimana membuat orang lain yang berada di sekitarnya nyaman dengan keberadaannya yang terkadang terkesan over itu. Yah, singkatnya dia itu serbaguna, err.. serba bisa.
Taeminnie... aku sudah dapat teman baru disini... bagaimana denganmu? Apa kau baik-baik saja semenjak kepergianku? Kenapa tak ada kabar darimu? Telpon tak bisa dihubungi, surat-suratku juga tak ada jawaban. Apa kau pergi juga? Kemana?
Tiap hari aku merindukanmu. Aku merindukan saat kita masih berada dalam sekolah yang sama. Saat kita menghabiskan waktu kita sebagai pelajar dengan penuh rasa suka cita. Hanya ada kamu disisiku, itu lebih dari cukup. Yeah, andai saja aku tetap disisimu, tetap menjaga janji kita, tapi apa aku masih pantas, aku sudah melukaimu. Tanpa sengaja rasa cintaku membuatmu terluka. Aku harus bagaimana?
++Flash Back++
Setiap pagi aku menjemput kekasihku dan berjalan bersamanya menuju sekolah. Setiap kali istirahat aku selalu bertemu dengan kekasihku di taman belakang sekolah dan menghabiskan waktu bersama. Setiap hari aku bahagia hanya dengan kekasih hatiku, Taeminnie ah disisiku.
”Taeminnie ah, buku catatanmu baru lagi?” Istirahat pertama dimana kami menghabiskan waktu berdua di taman belakang sekolah, aku bertanya saat melihat Taemin mengerjakan PR dengan buku tulis yang masih nampak baru.
”A.. ani.. aniy hyung. Ini yang kemarin kok.”
”Jangan bohong Taemin ah, bukumu yang kemarin bukan ini. Apa kau bisa belajar dengan baik jika tiap hari ganti buku seperti itu? Itu hanya akan menyulitkanmu dan hanya membuang-buang uang saja bukan?”
”A.. aku baik-baik saja hyung.. sudahlah jangan perlakukan aku seperti anak kecil terus.” aku tertawa kecil. Dia selalu bilang tidak ingin di anggap sebagai anak kecil dengan bibir manyun khas anak kecil. Mataku ganti beralih ke arah ikatan tali sepatunya yang aneh.
”Taeminnie ah... Kenapa kau mengikat tali sepatumu dengan begitu rumitnya?”
”Hm? Karena aku tak mau terjatuh hanya karena tali sepatu. Kalau sampai terjatuh karena hal sepele, itu tidak keren kan hyung.” Taemin berlagak seperti orang dewasa dengan gayanya. Ah hyung, aku mau kembali ke kelasku dulu. Aku harus segera mengumpulkan PR ini.”
”Ah, ya. Jangan lupa makan kue yang kuberi tadi. Hari ini rasa coklat. Kau pasti suka.”
”Ne hyung.” Melihat Taemin dari belakang, entah kenapa terlihat begitu menyesakkan. Mungkinkah karena terlalu cinta? Akan tetapi akhir-akhir ini dia sering memunggungiku. Kenapa? Dia sudah merasa tak nyaman lagi disisiku?
++++++++++++++++++++++
Malam hari ini hujan turun dengan teramat deras. Aku sedang ribut besar dengan ayahku mengenai rencana kepindahan kami ke Seoul saat pintu rumah diketuk dengan kerasnya.
”Minho! Minho! Minho ah!” orang yang berada di luar rumah berulang-ulang kali meneriakkan namaku. Ayahku menatap tajam padaku. Aku segera berlari menuju pintu rumah tanpa mempedulikan tatapan memuakkan itu. Jinki hyung, kakak dari kekasihku Lee Taemin, dialah yang kudapati saat pintu rumahku terbuka. Seluruh badannya basah kuyup, wajahnya nampak pucat ketakutan. “Minho ah.. apa Taemin bersamamu?” aku terkejut mendengar pertanyaan yang meluncur dari bibirnya.
“Mwo? Aniyo. Tadi dia bilang dia ada acara dengan teman-temannya. Dia belum pulang?”
->To Be Continue
Source by Lian Blingers
http://www.facebook.com/note.php?note_id=446267544051
Author : Lian1412
Length : Oneshot
Cast : SHINee Minho, Kibum(Key), Taemin, Jinki (Onew)
All of this fic is Minho POV
Hari ini hari pertama aku belajar di sekolah ini. Jujur saja, sedari tadi berada di ruang kelas baruku ini aku merasa tidak nyaman dengan tatapan-tatapan mata yang penuh nafsu tak jelas itu.
“Yah, minho ah, baru saja kau datang semua mata yeoja di kelas ini sudah memperhatikanmu, padahal kau datang dengan muka yang serem seperti ini. Bagaimana jika nanti seluruh sekolah tahu soal kedatanganmu ini. Aku tak bisa membayangkannya. Terserah kau mau jadi terkenal atau apa, tapi aku yakin kau tak akan mampu merebut julukan diva dariku.” Kim Kibum,, teman sebangkuku yang baru dia terlihat begitu cerewet dan fashionable. Aku melihat ke arah seluruh penujuru kelas. Yep. Benar sekali perkataan Kibum mereka memandangiku dan aku risih karenanya. Saat ini aku merindukan lirikannya yang malu-malu, wajahnya yang memerah saat kita bertemu pandang, Andai saja kau ada disini denganku.
+++++++++++++++++++
Launch time… entah aku harus bersyukur atau berduka saat ini. Aku berjalan berdampingan mengelilingi sekolah baruku dengan teman sebangku yang cukup cerewet. Dia cerewet dalam segala hal, namun berkat dia, aku terbebas dari kerumunan yeoja yang tadi menyerbuku.
“Minho ah, Kau hanya berdiam diri saja dari tadi. Ceritakan padaku tentang dirimu.” Tiba-tiba Kibum bertanya padaku saat kami berhenti di sebuah tanah lapang yang luas dan membuka bekal masing-masing.
“Tentangku?”
“Yeah, apa saja. Misalnya kenapa kau pindah ke sekolah ini?”
”Karena appa pindah tugas.”
”Kalau hobimu atau cita-citamu?”
“Aku suka olahraga, aku ingin jadi pemain sepak bola.”
“Itu saja? Lihatlah dirimu, kau nampak begitu membosankan. Tak adakah dalam dirimu yang menarik? Err… misalnya sekolahmu yang dulu mungkin. Atau adakah orang yang spesial mungkin.” Aku terdiam sejenak dan menghela nafas panjang.
“Sekolahku yang dulu, sekolah yang biasa saja. Sama seperti sekolah ini, banyak yeoja yang tatapannya memuakkan, bahkan para yeoja disana cenderung mengerikan. Kalau orang yang special… ada satu dan selamanya akan tetap satu itu.”
“Mwo? Benarkah? Ceritakan padaku!”
Seperti terhipnotis dalam aliran sungai, aku berbagi cerita dengan Kibum, teman baruku. Meski dia cerewet, dia orang baik dan aku pastikan ia tak akan membocorkan segalanya. Aih, aku jadi teringat kembali padanya saat-saat kami duduk di tepi sungai kecil sore hari dan berbagi cerita, mengikrarkan janji yang tak dapat kupenuhi. Aku makin merindukannya, aku bisa gila hanya karena memikirkannya.
++++++++++++++++++++++++++
‘Brzzzzzz!!!’ (tau dah author gak ngerti suara ujan gimana. Pokoknya gini.)
Hujan turun dengan lebatnya saat pulang sekolah. Aku dan Kibum memutuskan untuk menunggu hujan reda meski entah sampai kapan. Kami duduk di koridor kelas sambil memandangi air hujan yang berjatuhan. Meski aku menunggu sambil bercanda dan bertukar cerita dengan Kibum, ingatanku tetap tertuju padanya… My Taeminnie…
++Flash Back++
Senja hari sepulang sekolah di tepi sungai kecil. Hanya ada aku dan dia saat ini. Semoga selalu seperti ini.
“Hyung lihat lihat!” dengan nada manja yang tidak dibuat-buat Taemin merangkul lenganku dan menarikku menuju sungai kecil itu. “Hyung, lucu ya… ikannya kecil-kecil dan warna warni.” Aku menatapnya lembut dengan senyum penuh ketulusan.
“Kau mau satu?” mendengar perkataanku ia langsung menoleh kepadaku dengan bola mata lebar dan jernihnya.
“Hyung bisa mengambilkannya untukku? Aku mau dua!”
“Dua?”
“Ne. kalau satu kasihan hyung harus sendirian.” Taemin mengangguk mantap membuatku semakin gemas akannya.
“Boleh. Kau carilah wadahnya biar aku turun ke dalam sungai untuk mendapatkannya.”
“Yep.” Si mungil Taemin mengangguk cepat dan berlari menjauh mencari wadah di rumahnya yang terletak tak begitu jauh dari sini. Mendapatkan ikan dengan tangan hampa merupakan hal yang mustahil sekali bukan? Aku hanya duduk termenung memandangi ikan-ikan itu. Aku segera bangkit dari dudukku dan berlari menuju jalan kecil saat aku melihat seorang penjual ikan lewat. Aku membeli 3 ekor ikan darinya dan segera kembali ke tepi sungai.
“Hyung! Aku sudah bawa mangkuk besar nih!” tak lama sesampainya di tepi sungai, aku melihat Taemin belari menuju arahku dengan tawa riangnya. “Ini hyung!” dengan nafas yang terengah-engah.
“Kau tak perlu sampai berlari-lari seperti ini Taemin ah… kau bisa saja jatuh jika tak hati-hati tadi.” Aku menyambut mangkok yang disodorkannya dengan senyuman terbaikku.
“Aku hanya terlalu semangat hyung. Yah hyung sudah dapatkan ikannya?”
”Hem.. ne. Ini.” Aku memperlihatkan 3 ekor ikan yang baru saja kubeli kemudian meletakkannya dari plastik ke mangkuk yang dibawa Taemin tadi.
”Cepat sekali hyung. Hyung hebat.” Taemin memeluk tubuhku erat-erat. Dalam hati aku tertawa geli melihat kepolosan si kecil yang dengan begitu saja percaya padaku. Harusnya dia curiga karena bajuku sama sekali tak basah. Aku melepas perlahan pelukanny dan menyodorkan mangkuk yang sudah berisikan ikan itu pada si kecilku yang manis.
”Tiga?” melihat jumlah ikan itu dia menatapku penuh tanda tanya. ”Aku kan hanya minta dua hyung...”
”Bonus. Kalau hanya dua, jika suatu saat nanti yang satu pergi yang satunya akan kesepian. Beda ceritanya jika bertiga bukan?”
”Ah.. ne. Tapi aku hanya ingin berdua dengan hyung saja...” dia meatapku manja. Benar-benar menggoda. Aku mengelus rambutnya dan mendekatkan dirinya ke dadaku.
”Aku tak akan kemana-mana Taemin ah” lagi-lagi Taemin menunjukan mukanya yang mirip udang rebus. Merah. Wajah yang semakin membuatku mencintainya. Mencintai kepolosannya, mencintai keluguannya, mencintai dirinya sekarang dan selamanya.
”Brzzzzz!!! Hujan turun secara deras dengan tiba-tiba. Taemin dengan sigapnya menutup mangkuk yang berisi ikan-ikan itu dengan tasnya dan menaruhnya ke bawah pohon dan menarikku untuk lebih mendekati sungai. Ia pun mulai bermain air.
”Taemin ah! Apa-apaan kau ini! Ayo segera berteduh atau kau akan sakit nantinya?”
”Tak apa hyung. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu sebagai tanda terimakasihku.” Taemin justru tersenyum lebar dan mulai menggerakkan badannya di bawah air hujan. Dia menari dalam hujan. Begitu cantik di mataku. Entah mengapa wajah mungil yang tanpa dosa itu nampak begitu menggairahkan dalam setiap gerakkannya di hari hujan ini. Andai saja dia sudah dewasa dan bukan namja kecil lagi, entah apa yang akan aku lakukan padanya saat ini. Bebrapa saat kemudian hujan berhenti, saat itu pula ia mengakhiri gerakannya itu dan berlari mendekat padaku.
”Bagaimana hyung? Bagus tidak?”
”Cantik”
”Hm?”
”Lihatlah pelanginya cantik.” aku menarik lengan Taemin dan memperlihatkan sebuah pelangi yang nampak di langit. Tepat di atas ujung sungai sore ini
”Ne. Cantik. Ah hyung... kau belum memberiku komentar tentang tarianku tadi.” Taemin berkata dengan nada manjanya.
”Komentarku?” Aku menarik lengannya dan mengambil mangkuk berisi ikan tadi beserta tas sekolahnya. ”Sekarang kita pulang. Aku tak mau dimarahi kakakmu karena membawamu pulang malam.”
”Ahhhhh.. hyuuuunggg..” dia merengek menolak ajakkanku, namun dia tetap mengikuti langkah kakiku menuju rumahnya.
++ End of Flash Back++
”Minho ah, kau kenapa?” Kibum mengguncang tubuhku perlahan.
“Hm? Aku menoleh bingung ke arahnya.”
“Kenapa kau menangis?”
“Mwo?” aku meraba pipiku dan kudapati cairan bening itu sedang mengalir dengan derasnya.
“Kau tak apa?”
“Aniyo aku.. hanya sedikit teringat cerita masa lalu.”
“Tentang si kecil yang kau ceritakan tadi siang kah?”
“Err.. yah kurasa begitu.”
“Kau merindukannya?”
“Well.. kau pasti tau jawabannya. Hujan sudah reda. Ayo pulang.” Aku beranjak dari dudukku dan berjalan pulang beriringan dengan Kibum. Hal ini… membuatku semakin ingat akan Taemin. Saat ini, tak ada lagi tangan mungil yang kugenggam selama perjalanan pulang. Saat ini, tak ada lagi wajah polos dengan tawanya yang renyah disisiku.
++++++++++++++++++++++++++
“Yah! Minho ah.. kau sudah kerjakan PR Bahasa Inggris kemarin?” seminggu sejak kepindahanku, aku semakin akrab dengan teman sebangkuku. Meski cerewet, itu semua demi kebaikkanku. Aku paham betul itu.
“Hm? Memangnya kemarin ada PR?”
“Aish, kau ini selama pelajaran hanya bisa bengong saja ya? Ini pekerjaanku! Cepat salin sebelum kelas Mrs. Sora dimulai. Dia cukup disiplin untuk segala hal. Lagi pula aku ini cukup unggul dalam bahasa Inggris. Kau tak perlu khawatir ada pekerjaan yang salah.”
“Haha.. thank’s bro.” Aku menyambut tawaran Kibum dengan senyuman hangat sambil menyibakkan rambutku yang mulai memanjang. Seisi kelas terdiam. Mereka menatapku penuh ketakjuban. ”Yah Kibum ah, ada apa dengan mereka?”
”Yah, mungkin mereka takjub karena baru kali ini melihatmu tersenyum. Kalau aku sih sama sekali tidak. Kamu sudah cukup banyak tersenyum dengan senyuman yang lebih manis dari ini saat menceritakan soal si mungil. Yah, aku penasaran, sehebat apa si mungil yang mampu membuatmu seperti itu.” Kibum berbisik padaku dengan nada khasnya. Membuat telingaku geli dan merasa aneh. Aku pun tertawa kecil dibuatnya.
”Kibum ah, lain waktu kau harus menemui minnie. Kau pasti akan setuju dengan pendapatku bahwa dia cantik. Dia cantik dan tak ada yang mampu menandinginya. Apa pun itu.”
”Termasuk aku sang diva ini?”
”Haha.. itu lain cerita. Sudahlah aku mau salin tugas ini.”
”Ne ne ne... aku cari makan dulu boy...” dengan nada anehnya Kibum pergi keluar kelas meninggalkanku dan belasan pasang mata yang masih terbengong-bengong menatapku.
Ku akui Kibum memang pantas mendapat julukan diva. Dia tahu bagaimana cara berpenampilan, dia terampil dalam pekerjaan rumah tangga, dia pandai, dia tahu betul bagaimana membuat orang lain yang berada di sekitarnya nyaman dengan keberadaannya yang terkadang terkesan over itu. Yah, singkatnya dia itu serbaguna, err.. serba bisa.
Taeminnie... aku sudah dapat teman baru disini... bagaimana denganmu? Apa kau baik-baik saja semenjak kepergianku? Kenapa tak ada kabar darimu? Telpon tak bisa dihubungi, surat-suratku juga tak ada jawaban. Apa kau pergi juga? Kemana?
Tiap hari aku merindukanmu. Aku merindukan saat kita masih berada dalam sekolah yang sama. Saat kita menghabiskan waktu kita sebagai pelajar dengan penuh rasa suka cita. Hanya ada kamu disisiku, itu lebih dari cukup. Yeah, andai saja aku tetap disisimu, tetap menjaga janji kita, tapi apa aku masih pantas, aku sudah melukaimu. Tanpa sengaja rasa cintaku membuatmu terluka. Aku harus bagaimana?
++Flash Back++
Setiap pagi aku menjemput kekasihku dan berjalan bersamanya menuju sekolah. Setiap kali istirahat aku selalu bertemu dengan kekasihku di taman belakang sekolah dan menghabiskan waktu bersama. Setiap hari aku bahagia hanya dengan kekasih hatiku, Taeminnie ah disisiku.
”Taeminnie ah, buku catatanmu baru lagi?” Istirahat pertama dimana kami menghabiskan waktu berdua di taman belakang sekolah, aku bertanya saat melihat Taemin mengerjakan PR dengan buku tulis yang masih nampak baru.
”A.. ani.. aniy hyung. Ini yang kemarin kok.”
”Jangan bohong Taemin ah, bukumu yang kemarin bukan ini. Apa kau bisa belajar dengan baik jika tiap hari ganti buku seperti itu? Itu hanya akan menyulitkanmu dan hanya membuang-buang uang saja bukan?”
”A.. aku baik-baik saja hyung.. sudahlah jangan perlakukan aku seperti anak kecil terus.” aku tertawa kecil. Dia selalu bilang tidak ingin di anggap sebagai anak kecil dengan bibir manyun khas anak kecil. Mataku ganti beralih ke arah ikatan tali sepatunya yang aneh.
”Taeminnie ah... Kenapa kau mengikat tali sepatumu dengan begitu rumitnya?”
”Hm? Karena aku tak mau terjatuh hanya karena tali sepatu. Kalau sampai terjatuh karena hal sepele, itu tidak keren kan hyung.” Taemin berlagak seperti orang dewasa dengan gayanya. Ah hyung, aku mau kembali ke kelasku dulu. Aku harus segera mengumpulkan PR ini.”
”Ah, ya. Jangan lupa makan kue yang kuberi tadi. Hari ini rasa coklat. Kau pasti suka.”
”Ne hyung.” Melihat Taemin dari belakang, entah kenapa terlihat begitu menyesakkan. Mungkinkah karena terlalu cinta? Akan tetapi akhir-akhir ini dia sering memunggungiku. Kenapa? Dia sudah merasa tak nyaman lagi disisiku?
++++++++++++++++++++++
Malam hari ini hujan turun dengan teramat deras. Aku sedang ribut besar dengan ayahku mengenai rencana kepindahan kami ke Seoul saat pintu rumah diketuk dengan kerasnya.
”Minho! Minho! Minho ah!” orang yang berada di luar rumah berulang-ulang kali meneriakkan namaku. Ayahku menatap tajam padaku. Aku segera berlari menuju pintu rumah tanpa mempedulikan tatapan memuakkan itu. Jinki hyung, kakak dari kekasihku Lee Taemin, dialah yang kudapati saat pintu rumahku terbuka. Seluruh badannya basah kuyup, wajahnya nampak pucat ketakutan. “Minho ah.. apa Taemin bersamamu?” aku terkejut mendengar pertanyaan yang meluncur dari bibirnya.
“Mwo? Aniyo. Tadi dia bilang dia ada acara dengan teman-temannya. Dia belum pulang?”
->To Be Continue
Source by Lian Blingers
http://www.facebook.com/note.php?note_id=446267544051
Sabtu, 03 Juli 2010
Long Time No See ^_____^
wah~....
rasanya uda seabad niuew kagak mampir ke blog tecinta ini...
>.<
liburan ini banyak boringnya....
mau nnton mv k-pop,,malah di usir ama adeq dri kamar....
=.=
sepupu jauh dateng nih dari siantar,,
lebih tepatnya kebun teh...
jadinya ane boboq sekamar dah ama dy...
trz nnton eclipse bareng keluarga...
ada yg bilang klu mreka cuma penasaran aja ama ntu movie.....
trz ad jga yg blng klu uda nnton ntu movie ga berkembang...
alias flat.....datar.....
truz,,,
cassie mw nnton aang the last airbender the movie,,ahh....
efek kmpternya ntu lho....
kerrrrrreeeeeeeennnnnndddddddddd.......
yg cassie tnggu2 nie,
yaitu,,
comebacknya shinee....
hohoho.............
pgin liad onew oppa,,
pha lgi dger suaranya yg lembut ntu....
*bhkan lbih lmbut dri jonghyun*
>.<
dy ntu imud bged yah~.....
cassie smpai mlupakn jae oppa....
tpi tng,,jae oppa ttp nmer satu kq....
wkwkwkwk
wah~....
mav klu nie postingan agak melenceng dari yg seharusnya....
*yg sharuznya gmna???*
oh y,,
ktnya minho ntu eksnya krystal....
grrrr.....
*ngasah pisau*
tpi gpp kq,,
*pdhal ngarep jga onew jdian ama krystal*...
byarpun ga co2k,,tpi pgin aja liad mreka jlan bsma...
wkwkwk
wah....
sekian dulu yupp cerita dri cassie slama satu minggu liburan....
*yg spenuhnya d habisqn d rumah*
annyeong !!
rasanya uda seabad niuew kagak mampir ke blog tecinta ini...
>.<
liburan ini banyak boringnya....
mau nnton mv k-pop,,malah di usir ama adeq dri kamar....
=.=
sepupu jauh dateng nih dari siantar,,
lebih tepatnya kebun teh...
jadinya ane boboq sekamar dah ama dy...
trz nnton eclipse bareng keluarga...
ada yg bilang klu mreka cuma penasaran aja ama ntu movie.....
trz ad jga yg blng klu uda nnton ntu movie ga berkembang...
alias flat.....datar.....
truz,,,
cassie mw nnton aang the last airbender the movie,,ahh....
efek kmpternya ntu lho....
kerrrrrreeeeeeeennnnnndddddddddd.......
yg cassie tnggu2 nie,
yaitu,,
comebacknya shinee....
hohoho.............
pgin liad onew oppa,,
pha lgi dger suaranya yg lembut ntu....
*bhkan lbih lmbut dri jonghyun*
>.<
dy ntu imud bged yah~.....
cassie smpai mlupakn jae oppa....
tpi tng,,jae oppa ttp nmer satu kq....
wkwkwkwk
wah~....
mav klu nie postingan agak melenceng dari yg seharusnya....
*yg sharuznya gmna???*
oh y,,
ktnya minho ntu eksnya krystal....
grrrr.....
*ngasah pisau*
tpi gpp kq,,
*pdhal ngarep jga onew jdian ama krystal*...
byarpun ga co2k,,tpi pgin aja liad mreka jlan bsma...
wkwkwk
wah....
sekian dulu yupp cerita dri cassie slama satu minggu liburan....
*yg spenuhnya d habisqn d rumah*
annyeong !!
Langganan:
Komentar (Atom)
